
Pedang ©2014 Lintastoday/TopTenz
Sultan Hassanuddin adalah salah satu sultan yang pernah menjabat di Kerajaan Gowa. Pada masa pemerintahannya, terjadi sebuah masalah yang terjadi antara Kerajaan Gowa dan VOC. Kerajaan Gowa yang nggak bisa menerima tindakan sewenang-wenang VOC, mulai memberontak. Banyak persiapan yang harus dilakukan oleh Kerajaan Gowa untuk bisa mengalahkan tentara-tentara VOC. Lalu, bagaimana persiapan penyerangan diantara dua kubu ini?Setelah melakukan beberapa hal, Kerajaan Gowa mulai menghubungi beberapa sekutunya. Di sisi lain, VOC juga mempersiapkan diri untuk bisa menghadapi serangan dari Kerajaan Gowa. Taktik devide et impera atau siasat adu domba mulai dilakukan. Misalnya ketika VOC menjalin hubungan dengan seorang Pangeran Bugis dari Bone yang bernama Aru Palaka. Karena keinginan VOC yang begitu besar untuk bisa menguasai daerah Gowa, pimpinan VOC, Gubernur Jenderal Maetsuyker memutuskan untuk melakukan serangan kepada Kerajaan Gowa. Dikirimlah sebuah pasukan yang terdiri dari 21 kapal yang mengangkut 600 orang tentara.
600 orang tentara itu terdiri dari tentara VOC, orang-orang Ambon dan orang-orang Bugis di bawah pimpinan Aru Palaka. Di tanggal 7 Juli 1667, terjadilah Perang Gowa. Tentara VOC yang dipimpin oleh Cornelis Janszoon Spelman, diperkuat dengan kehadiran pengikut Aru Palaka dan ditambah orang-orang Ambon di bawah pimpinan Jonker van Manipa. Meskipun pihak Gowa sudah tahu akhirnya, mereka tetap tidak menyerah. Tindakan Sultan Hassanuddin ini tentunya bisa kita tiru karena tetap berpikir positif dalam situasi apapun. Hal ini penting karena berhubungan langsung dengan pelajaran sejarah Indonesia dan bisa meningkatkan nasionalisme kita.










































0 comments:
Apa komentar dan tanggapan Anda dari berita di atas?
Emoticon