Perjalanan ustaz Nababan bersyahadat hingga dirikan Ponpes mualaf

Wednesday, 21 June 2017

Perjalanan ustaz Nababan bersyahadat hingga dirikan Ponpes mualaf
Ustaz Nababan. ©2017 Lintastoday
Ustaz Syamsul Arifin Nababan pendiri pondok pesantren mualaf An Nabba Center ialah seorang mualaf. Dia menjadi mualaf pada tahun 1991. Sejak menjadi mualaf, pria asal Tapanuli Utara ini terus mendalami agama Islam. Dia sampai belajar dan mondok di Jember Jawa Timur.

Tak puas dengan ilmu yang didapat, pada tahun 1996 Ustaz Nababan melanjutkan kuliah di Universitas Ibnu Suud Kerajaan Arab Saudi yang berada di Jakarta. Setelah mendalami ilmu, muncul rasa syukur dan tanggung jawab kepada agama Islam. Sebab, setelah mualaf banyak nikmat Allah yang dirasakannya sehingga dia ingin berbagi dengan umat muslim lainnya.

Karena itu pria berusia 50 tahun ini terpanggil untuk menjadi seorang penceramah. Lalu dia sering berceramah dari satu tempat ke tempat lainnya, bahkan hingga ke luar negeri.

"Saya baca dalam Alquran ucapan yang paling baik pekerjaan yang paling mulia adalah dakwah," ujarnya kepada merdeka.com, di pondok pesantren Mualaf An Nabba center, Ciputat, Senin (12/6).

Namun seiring berjalannya waktu, Ustaz Nababan kerap menjumpai mualaf di masjid-masjid dan di jalan-jalan. Dia melihat ada perbedaan antara dirinya dengan para mualaf tersebut. Ustaz Nababan merasa seorang mualaf beruntung dibanding mualaf yang dijumpainya.

Menurutnya, mualaf yang dia temui hanya sekedar mengucapkan dua kalimah syahadat lalu menerima sertifikat masuk Islam. Tapi setelah itu mereka tidak mendapatkan pembinaan tentang Islam baik dari keinginannya sendiri maupun dari ulama-ulama.

Maka dari tahun 2008, ustaz Nababan mencoba merangkul mualaf dengan memberikan pembinaan. Dia berbagai ilmu tentang agama Islam. Hal itu dia lakukan dari masjid ke masjid. Dari hari ke hari semakin banyak mualaf yang mengikuti pembinaan dan kegiatan tersebut. Tapi yang disayangkan Ustaz Nababan tidak memiliki tempat yang tetap. Oleh karena itu dia berusaha dan berdoa agar segera memiliki tempat untuk menampung dan membina para mualaf.

"Alhamdulillah 10 tahun kemudian tahun 2007 saya membeli tanah ini 1.200 meter lalu 2008 saya bangun. Saya tampung semua mualaf tidak dipungut biaya sama sekali," paparnya.

Tak cuma ditampung, para mualaf itu disekolahkan hingga ke perguruan tinggi. Awal membangun tempat diperuntukkan mualaf laki-laki. Akan tetapi karena banyak juga mualaf wanita yang ingin dibina dan masuk ke dalam pondok pesantern yang berlokasi di Tangerang Selatan itu, akhirnya tahun 2014 Ustaz Nababan mendirikan pondok buat putri.

Saat ini sekitar 60 penghuni yang ada di pondok tersebut. Cita-cita Ustaz Nababan pun tercapai membuat tempat para mualaf. Para mualaf yang dibina rata-rata selama satu bulan sudah bisa baca Alquran. Bahkan banyak alumni yang menjadi pendakwah dan penghafal Alquran.

Para penghuni pondok pesantren itu dari berbagai daerah. Tapi kebanyakan dari NTT, Timor Leste dan daerah Sumatera. Mualaf-mualaf itu datang dengan sendirinya. Tapi jika mualaf yang berasal dari jauh biasanya biaya transportasi ditanggung pihak pondok.

Umumnya mereka tahu tentang pondok pesantren An Nabba Center dari internet atau informasi teman. Ustaz Nababan pun memaparkan persyaratan yang mesti dipenuhi untuk para mualaf yang akan masuk ke pondok pesantrennya.

Ada kontrak yang mesti dipatuhi oleh para mualaf yang datang. Kontrak itu ialah bagi mualaf yang tidak bisa baca Alquran selama satu bulan akan dikeluarkan. Peraturan ini ketat karena dikhususkan mualaf yang sungguh-sungguh ingin belajar Islam. Apalagi pondok ini tidak dipungut biaya alias gratis. Selain itu batas usia maksimal 35 tahun.

"Apabila udah S1 mereka akan kita pulangkan ke kampung masing-masing untuk berdakwah di sana agar bisa mengislamkan keluarganya," katanya.

Katanya, dia sudah mengislamkan puluhan orang mualaf. Semua biaya kehidupan di pondok pesantren dibantu oleh para donatur-donatur. Tapi donatur tersebut bukan donatur tetap melainkan siapa saja yang ingin menjadi donatur. Oleh karena itu ustaz Nababan rajin mencari donatur untuk menyambung hidup anak asuh dan para guru di pondok tersebut.

"Setiap bulan keluar dana 60 sampai 70 juta tidak ada donatur tetap tapi bisa jalan. Ini kebenaran janji allah," ucap ustaz Nababan.

Di pondok pesantren itu mereka diajarkan semua tentang agama Islam, Alquran, hadist, fikih, bahasa Arab dan mengenai akhlak. Sementara belajar formal atau sekolah mereka lakukan di luar pondok. Ustaz Nababan mengatakan, guru-guru yang mengajar di pondok itu ada yang berasal dari luar seperti dari Libya, Mesir, dan Arab. Tujuannya agar para mualaf cepat paham mengenai islam dan bisa berguna di masyarakat.

Bahkan, di pondok mualaf ini ada penghargaan bagi mualaf yang berprestasi. Penghargaan itu berupa berangkat umrah ke tanah suci. Hadiah ini baru berjalan sekitar lima tahun dan sudah ada belasan orang yang beruntung. Seluruh biaya itu diberikan oleh donatur.

"Tahun ini ada empat orang berangkat," kata dia.

Ustaz Nababan juga sudah menyiapkan fasilitas di daerah-daerah untuk para mualaf untuk berdakwah. Kini dia pun membuka dua cabang pondok pesantren di NTT untuk memperluas niatnya membina para mualaf. Dia berharap kepada mualaf agar mereka belajar dengan sungguh-sungguh. Karena peluang belajar seperti ini susah didapatkan
Baca Selengkapnya »

Cerita Ika Nico jadi mualaf dan langsung dapat cobaan berat

Tuesday, 20 June 2017

Cerita Ika Nico jadi mualaf dan langsung dapat cobaan berat
Ika Nico. ©2017 Lintastoday
Ika Nico sudah mengalami perkembangan yang pesat dalam menjalani puasa Ramadan sejak mualaf tiga tahun lalu. Ika yang merupakan istri dari aktor Reza Pahlevi ini mengaku menjalani puasa merupakan hal yang tak asing, sebab dalam agamanya terdahulu, dirinya juga berpuasa.

"Rasanya senang (berpuasa), kalau soal puasa di semua agama juga ada. Aku kan dulu Nasrani, kita juga dulu puasa ada juga. Puasa Senin Kamis dan lain sebagainya. Apalagi sejak pacaran sama beliau (Reza Pahlevi), kalau beliau puasa saya juga nemenin dan nggak mungkin makan kan depan dia. Sudah menjadi hal yang biasa sih menurut aku," ujar Ika saat berbincang dengan merdeka.com, beberapa waktu lalu di kawasan Jakarta Selatan.

Cewek cantik yang sempat bergabung dalam grup TQLA ini mengungkapkan sebelum mualaf, dirinya takjub dengan disiplin orang muslim. Hidupnya teratur, lanjut Ika, dari hal yang kecil hingga yang besar sudah ada peraturannya.

"Kalau (agama) yang kemarin, lebih mengajarkan kasih mengasihi. Kalau Islam itu taat. Hebat ya orang muslim setiap mau salat wudhu dulu, jadi bersih. Terus ada peraturan pernikahan, ada mandi junub dsb, untuk wanita kan agak repot, apalagi yang belum biasa harus keramas dan lain sebagainya. Makanya saya bilang Islam itu taatnya luar biasa," jelas dia.

Dia mengaku hubungan dengan keluarga yang sempat kecewa dengan keputusannya untuk memeluk agama Islam sudah berangsur normal. Ika menuturkan, keluarga berpesan apa pun agama yang dianut harus menjadi pribadi yang lebih baik.

"Pertentangan dari keluarga ada tapi bisa diselesaikan, kebetulan sebagian besar keluarga saya ada yang muslim. Pertentangan enggak ada tapi lebih ke kecewa mungkin. Kalau kecewa pasti, terutama adik. Dia bilang, lakukan apa yang kamu buat bahagia. Saya harus nurut sama suami, karena bagaimana pun istri harus berbakti sama suami. Enggak bisa rumah tangga ada dua nahkoda, tapi saya yakini aja Insya Allah ke depannya baik," jelas dia.

Coba bunuh diri

Beberapa waktu lalu, kata Ika, dirinya sempat bernazar sama Allah SWT jika dikasih amanah untuk memiliki anak maka akan berhijab. Akhirnya diketahui dirinya hamil empat minggu, namun tiba-tiba Ika menjadi takut untuk berhijab.

"Tiba-tiba keguguran. Ini merupakan pukulan bagi saya. Dari situ banyak orang berfikir, oh itu karena kena azab karena kamu tadinya yang bernazar sama Allah jadi nggak jadi. Tapi saya yakin Allah SWT enggak sejahat itu, Allah itu kasihnya luar biasa banget. Dia pasti tahu apa yang terbaik untuk hambanya," tutur dia.

Atas gugurnya kandungan tersebut, Ika mengaku sempat drop hingga mencoba untuk bunuh diri. Karena menurut dokter, lanjut Ika, kandungannya bermasalah bahkan divonis tak bisa hamil. Ika mengatakan dokter kaget saat saya diketahui hamil.

Namun berkat suaminya, Ika mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Kembali mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan berpikir positif atas kejadian tersebut. Belajar dari peristiwa tersebut, Ika menyerahkan hidupnya ke depan kepada Allah SWT yang maha segalanya.

"Jadi ini malah menjadikan saya pribadi yang kuat, Allah memberikan yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan. Mungkin Allah ngasih saya hal (cobaan) seperti ini, supaya nextnya saya lebih siap lagi jadi orangtua yang baik untuk anak saya," tutup Ika.
Baca Selengkapnya »

Temukan kedamaian, 2 WN Jepang bersyahadat dibimbing KH Said Aqil

Monday, 19 June 2017

Temukan kedamaian, 2 WN Jepang bersyahadat dibimbing KH Said Aqil
2 WN Jepang mualaf. ©2017 Lintastoday/NU Online
Dua WN Jepang bernama Sakai Nobukazu (57) dan Suzuki Masayuki (59) resmi memeluk agama Islam usai mengucapkan dua kalimat Syahadat di hadapan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj dan ratusan santri Pesantren Luhur Al-Tsaqafah Jakarta, Sabtu (10/6) malam.

Meski terbata-bata, namun keduanya nampak begitu khusuk dan menghayati saat membaca dua kalimat tersebut. Kiai Said mengaku tidak mengajak mereka berdua untuk memeluk Islam, tetapi mereka masuk Islam atas kehendak sendiri.

"Padahal saya nggak ngajak masuk Islam, tapi masuk Islam sendiri," tutur Kiai Said. Seperti dilansir nu online.

Sejauh ini, dia menuturkan sudah ada enam belas warga Jepang yang menyatakan diri menjadi pengikut agama yang dibawa Nabi Muhammad itu.

"Sudah empat belas, tambah dua orang (Sakai dan Suzuki) berarti enam belas," ucapnya.

"(Setelah masuk Islam) Saya beri nama Ali Sakai Nobukazu dan Umar Suzuki Masayuki," lanjut Kiai Said.

Lebih lanjut, Kiai asal Kempek Cirebon itu menjelaskan, Islam dan kemanusiaan itu sangat sesuai dan cocok. Karena cita-cita Islam adalah membangun keharmonisan dan kedamaian umat manusia.

"Antara Islam dan manusia sudah sangat cocok sekali," ungkapnya.

Adapun kelompok teroris dan radikal yang mengatasnamakan Islam sebagai tameng, Kiai Said menilai bahwa mereka itu bukan Islam karena apa yang mereka lakukan itu bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad.

"ISIS bertentangan dengan Islam itu sendiri, bertentangan dengan ajaran orisinil Nabi Muhammad yang mengajarkan kedamaian," urainya.

Sementara itu, Ali Sakai bercerita bahwa orangtuanya adalah seorang bukio atau ulama Buddha. Namun kemudian, ia memeluk agama Islam karena Islam itu agama yang membawa kedamaian. Oleh karena itu, ia mengaku bahagia bisa menjadi bagian dari umat Islam.

"Saya banyak teman dari Malaysia dan Indonesia. Hanya Islam yang membawa kedamaian. Saya hari ini sangat bahagia karena sudah masuk Islam," ungkapnya.
Baca Selengkapnya »

Kisah Abu Bakar, sahabat Rasulullah paling kaya menjadi mualaf

Thursday, 30 June 2016

Kisah Abu Bakar, sahabat Rasulullah paling kaya menjadi mualaf
Masjid ramlie musofa. ©2016 Lintastoday
Abu Bakar adalah saudagar kaya raya, jujur dan berakhlak mulia. Setelah Nabi Muhammad SAW, dia adalah orang yang paling dipercaya di Makkah. Dikutip dari buku The Great Story of Muhammad, kisah masuk Islam Abu Bakar berawal ketika dia mendapat kabar dari tetangga-tetangganya tentang Muhammad menjadi nabi, setelah dia kembali ke Makkah usai berdagang.

Berita tentang dakwah Islam memang diketahui oleh orang-orang Quraisy meski Nabi Muhammad melakukannya dengan sembunyi. Itu terjadi setelah mereka melihat beberapa kejadian.

Menurut Muhammad Al Ghazali, kendati kabar tentang dakwah Islam telah menyebar, namun kaum Quraisy masih tak peduli. Mereka menduga bahwa Nabi Muhammad sama seperti Umayyah bin ash-Shallat, Qus bin Sa'idah, Amr bin Nufail dan lainnya yang peduli terhadap urusan agama. "Muhammad mengaku menjadi Nabi. Ia meminta kita untuk tidak menyembah berhala lagi, tapi kita tak akan pernah meninggalkan berhala-berhala kita," kata para tetangga Abu Bakar.

Kemudian mereka meminta Abu Bakar untuk menemui Nabi Muhammad. "Kami telah menanti-nanti kedatangan mu. Temui Muhammad dan lakukan apa pun yang engkau sukai!".

Abu Bakar tercengang mendengar itu. Dia bergegas pergi menuju kediaman sahabatnya, Rasulullah. Setiba di sana dia disambut Rasulullah dengan senyum mengembang. Abu Bakar langsung mencecar Beliau dengan pertanyaan.

"Wahai Abu Qasim, apa benar engaku telah mengaku sebagai nabi kepada orang-orang di sini? Apa benar engkay tidak mau menyembah berhala dan tidak aka memeluk agama penduduk Makkah?" tanya Abu Bakar. Dia biasa memanggil Nabi Muhammad dengan 'Abu Qasim' yang artinya 'ayah Qasim'. Qasim adalah salah satu putra Rasulullah.

"Betul, Abu Bakar. Aku adalah nabi yang diutus untukmu dan semua manusia. Aku ingin semua manusia beriman dan menyembah Allah Yang Esa. Aku ingin engkau juga beriman," jawab Rasulullah penuh kehangatan.

Abu Bakar menyimak dengan cermat apa yang diucapkan Rasulullah. Tidak sedikit pun keraguan ada di dalam dirinya. Dia yakin, perkataan itu benar karena Rasulullah tidak pernah bohong. Tanpa banyak bicara, Abu Bakar langsung bersyahadat.

"Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah".

Rasulullah terlihat gembira usai Abu Bakar berikrar. Beliau peluk dengan erat tubuh Abu Bakar. Kini, bertambah lagi manusia yang memeluk Islam dan itu adalah Abu Bakar, sosok yang sangat dihormati di Makkah.

Abu Bakar sangat bersemangat mendakwahkan Islam. Dia sosok yang ramah, luwes, dan berbudi luhur. Para tokoh kaumnya sering datang berkunjung untuk menemui Abu Bakar.

Setelah satu minggu Abu Bakar masuk Islam, ada enam orang yang berhasil diislamkan olehnya. Mereka adalah enam dari 10 orang yang dijanjikan oleh Allah masuk surga, yaitu Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqash, dan Abu Ubaidah bin Jarrah.
Baca Selengkapnya »

Belajar dari pengalaman, Umi Irena dirikan Ponpes khusus mualaf

Wednesday, 22 June 2016

Ustazah Irene. ©2016 Lintastoday
Berbekal dari pengalaman pribadi, Umi Irena Handono mendirikan pondok pesantren khusus wanita yang menjadi seorang mualaf di Sentul, Bogor. Dia ingin membimbing para mualafah menjadi seorang muslim yang benar-benar paham akan Islam.

"Dari pengalaman Umi hingga saat ini, banyaknya mualaf yang terombang-ambing, karena mencari pembimbing mualaf. Hal ini terbukti dengan tidak adanya kurikulum tentang pendidikan agama untuk para mualaf," ungkap Umi Irena.

Menurutnya, seorang mualah tidak cukup hanya diajarkan dengan hafalan Alquran. Namun, harus bisa paham dan mendalami Islam secara keseluruhan.

"Mualaf adalah orang dewasa yang berpendidikan, yang memilih Islam karena pemahaman. Tidak cukup hanya diajarkan dengan hafalan membaca Alquran, tapi harus juga diberikan pemahaman. Sebab sesudah mendalami Islam, mualaf bukan lagi mualaf, tapi muslim yang Kaffah," jelasnya.

Kini, sudah banyak para mualafah yang bergabung di Ponpes tersebut. Lantaran masih tahap pembangunan, mereka belum bisa menetap di sana.

"Belum dibangun asrama, para mualafah hanya pulang pergi saja. Di sini lah justru penting sekali asrama itu agar tidak ada mualafah yang terombang-ambing," ujar mantan biarawati ini.

Diakui Umi Irena, selama bulan Ramadan ini banyak kegiatan yang dilakukan para mualafah. Kegiatan ini menambah semarak dan antusias mualaf-mualaf baru untuk terus belajar tentang Islam. "Ngaji, buka bersama, tawarih dan saur ada," tandasnya.
Baca Selengkapnya »

Puasa pertama kali, Umi Irena sering diajak makan siang keluarga

Puasa pertama kali, Umi Irena sering diajak makan siang keluarga
Ustazah Irene. ©2016 Lintastoday
Umi Irena Handono, menjadi mualaf sehari sebelum puasa Ramadan. Kala itu puasa pertama baginya. Dia pun antusias meski keluarganya belum ada yang tahu bahwa mantan biarawati itu telah menjadi muslim.

"Besoknya Umi puasa, keluarga belum ada yang tahu jika Umi puasa," ungkap Umi Irena.

Layaknya orang yang pertama kali puasa, Umi Irena pun merasakan sulitnya menahan haus dan lapar. Apalagi keluarganya terus mengajaknya makan siang bersama. Namun, ajakan itu tak menggoyahkannya imannya kepada Allah SWT.

"Siang hari Umi diajak makan tapi Umi menolak terus. Ini satu ujian. Di sini lah justru nikmatnya iman. Berbuka pun berbeda dengan yang lain meriah, Umi sendiri dengan menu apa adanya," kenangnya.

Tak hanya berbuka puasa, ketika sahur pun Umi sembunyi-sembunyi dari keluarganya. Menu sahur yang dimakan hanya roti dan buah.

"Sahur pun sama, yang bisa Umi lakukan hanya roti dan buah, tidak menyulitkan diri sendiri maupun orang lain," ucap Umi Irena.
Baca Selengkapnya »

Dari kuliah ilmu perbandingan agama, biarawati ini jadi mualaf

Dari kuliah ilmu perbandingan agama, biarawati ini jadi mualaf
Ustazah Irene. ©2016 Lintastoday
Hidayah Allah tak pernah terduga. Hidayah bisa datang kepada siapa pun dan kapan saja. Seperti yang dialami oleh Umi Irena Handono, seorang biarawati yang memutuskan menjadi mualaf. Umi Irena memutuskan pindah agama pada tahun 1983 di Surabaya, saat usianya 29 tahun.

"Mendapat hidayah Allah dari tempat yang tidak diduga, yaitu saat saya sedang menjadi biarawati dalam suatu biara. Namun, inilah karunia Allah dan hidayah Umi dapat. Saya mendapat kuliah menekuni ilmu perbandingan agama, salah satunya mengenai Islam," kata Umi Irena.

Umi Irena mengatakan, dari ilmu yang dia tekuni itu rasa ingin tahu mengenai Islam semakin bergelayut di benaknya. Dia kemudian terus menggali tentang Islam dari Alquran, yang merupakan kitab suci kaum muslim.

"Umi waktu itu belum paham bagaimana cara membaca huruf Hijaiyah dan membaca Alquran. Maka Umi mempelajarinya melalui Alquran terjemahan, itu pun cara membacanya terbalik. Dan yang pertama kali Umi baca surat Al-Ikhlas, yang menyatakan Tuhan itu ahad (satu). Reaksi Umi adalah ini logis dan benar," ujarnya.

Saat memutuskan untuk menjadi mualaf, anak ke lima dari lima bersaudara itu tidak meminta izin kepada keluarga. Umi Irena hanya pamit kepada sang ibunda untuk pergi. Padahal kepergiannya itu untuk mengucapkan dua kalimat syahadat.

"Umi menyadari sudah dewasa dan tidak perlu meminta izin, maka Umi hanya pamit kepada Ibu," kenang Umi Irena.

Setelah kembali pulang ke rumah, Umi Irena belum memberi tahu keluarga jika sudah pindah keyakinan. Sampai akhirnya, keluarganya memergoki sendiri ketika dia tengah melaksanakan salat.

"Waktu itu mereka melihat Umi salat. Seluruh keluarga gempar, dan kaget karena kamarnya ada perempuan islam sedang salat, lalu semua terkejut melihat wajah Umi. Dari sini lah Umi, sebagai anak bungsu dari 5 bersaudara dan wanita satu-satunya, tidak mau lagi menyembunyikan hal ini," ungkapnya.

Kendati demikian, tidak sepenuhnya keluarganya ikhlas menerima keputusan Umi Irena. Namun perlahan, ibunya bisa menerima keputusan itu.
Baca Selengkapnya »

Cerita mualaf, mulai dari dibuang keluarga hingga belajar puasa

Saturday, 18 June 2016

Cerita mualaf, mulai dari dibuang keluarga hingga belajar puasa
Ilustrasi. ©2013 Merdeka.com/Shutterstock/Zurijeta
Halim Abdullah, sebelumnya Lim Ah Teng (50) seorang keturunan Tionghoa bercerita pengalamannya menjadi seorang muslim yang harus kehilangan keluarganya.

Tapi, akhirnya Ia mendapatkan keluarga baru dari seorang muslim. Dengan begitu, dirinya bisa belajar banyak menjadi seorang muslim, termasuk menjalankan kewajiban selama bulan suci Ramadan.

"Saya dibuang. Namun, saya sangat bersyukur bisa melewati puasa ini perjalanan dengan keluarga baru saya. Keluarga saya mengadopsi telah menjadi dukungan yang besar," ujarnya seperti dikutip dari New Straits Times.

"Mereka membantu mengajarkan saya tentang bagaimana cara untuk hidup sebagai seorang Muslim yang tepat dengan membimbing saya untuk melakukan doa dan membaca Al-Quran," sambungnya.

Di bulan Ramadan ini, Ia sedih karena harus absen satu hari untuk tidak berpuasa lantaran masalah kesehatan. Akan tetapi, dirinya bertekad untuk menyelesaikan sisa puasa hingga hari raya Idul Fitri.

Sementara itu, Nur Syuhada Abdullah (30) seorang operator pabrik menceritakan bagaimana menjalankan ibadah puasa dan belajar mengenai agama Islam seorang diri setelah hanya dirinya yang menjadi mualaf di keluarganya.

Akan tetapi, Ia tak merasa sendiri lantaran banyak teman-temannya yang muslim untuk mau membimbingnya mengajarkan mengenai kewajiban dan larangan yang harus dilaksanakan sebagai seorang muslim.

"Untuk saat ini, saya hanya mengikuti apa yang dilakukan muslim lainnya ketika mereka berdoa. Saya juga bersyukur bahwa teman-teman saya dan tetangga telah mengajarkan saya banyak terutama pada fard 'ain dan fardhu' kifayah," jelasnya pada laman yang sama.

Mengenai berpuasa, Ia mengkisahkan bagaimana kerap merasakan haus karena pekerjaannya yang berat. Sehingga dapat berpengaruh pada kondisi fisiknya. Akan tetapi, hal itu tak membuatnya berkeinginan untuk membatalkan ibadahnya.

"Saya tidak merasa lapar selama jam puasa tapi kondisi kerja saya bisa membuat saya merasa sangat haus. Kadang-kadang saya merasa sangat lesu, namun demikian saya ingin melanjutkan puasa untuk memenuhi kewajiban agama saya," tuntasnya.
Baca Selengkapnya »

Kisah gadis Tionghoa jadi mualaf setelah 2 tahun ikut berpuasa

Friday, 17 June 2016

Kisah gadis Tionghoa jadi mualaf setelah 2 tahun ikut berpuasa
Keluarga china jadi mualaf. ©2016 NST.com
Tahun ini menjadi pertama kalinya untuk Nuradlin Lim Cia Cia (23), mahasiswa kedokteran di Universitas Pertahanan Nasional Malaysia menjalankan ibadah puasa sebagai muslim.

Wanita keturunan Tionghoa yang menetap di Malaysia ini mengaku tak asing dengan berpuasa, karena telah dilakukannya sejak dua tahun lalu. Akan tetapi, ketika itu ibadah tersebut dilakukannya secara diam-diam.

"Sebelum ini, saya puasa diam-diam tanpa sepengetahuan orang tua saya karena saya tidak ingin menyakiti perasaan mereka. Ketika adik saya masuk Islam, baru saat itu aku punya keberanian menyampaikan telah mengikuti jejaknya," katanya seperti dikutip dari New Straits Times.

Dia menyampaikan, ibunya mendukung keputusan anaknya itu. Namun, sang ayah sempat keberatan atas langkah tersebut. "Ibu saya sangat mendukung dan pengertian. Dia bahkan membangunkan saya setiap hari untuk sahur dan mempersiapkan makanan yang halal bagi saya," jelasnya.

Nuradlin mengatakan, sebagai mahasiswa kedokteran, dia memiliki jadwal yang padat sehingga tidak selalu menjalankan ibadah tarawih di masjid seperti muslim lainnya.

"Namun, saya beruntung memiliki teman-teman yang mendukung dan mau berdoa bersama dengan saya di rumah," pungkasnya.
Baca Selengkapnya »

Baru jadi mualaf, bule Inggris ini sulit memahami amalan Qurban

Thursday, 16 June 2016

Baru jadi mualaf, bule Inggris ini sulit memahami amalan Qurban
Samuel Howat. ©instagram.com/thegirlbeneatheadscarf
Banyak pelajaran yang didapatkan Samuel Howat, warga negara Inggris setelah menjadi seorang mualaf. Akan tetapi masih ada hal dipelajari dari Islam yang hingga kini sulit untuk melakukannya.

"Qurban, ketika ternak disembelih untuk amal. Saya tidak bisa membunuh binatang seperti itu, dan saya tidak suka bahwa itu disebut 'korban' ketika hewan tidak memiliki pilihan," kata Sam, panggilan Samuel.

Menurut Sam, ada banyak perbedaan mencolok sebelum dan sesudah masuk Islam. Setelah menjadi mualaf dia lebih sulit menemukan restoran halal. Sebab, Sam tinggal di negara mayoritas penduduk beragama non muslim.

"Aku tidak mendapatkan banyak tidur (setelah mualaf), dan lebih sulit untuk menemukan restoran untuk makan," ujarnya.

Kendati demikian, Sam mengaku nyaman menjadi mualaf. Tidak ada perubahan nama setelah dia memeluk agama Islam.

"Tapi alasan saya merasa nyaman dengan masuk Islam adalah karena saya sudah berbagi banyak keyakinan, sehingga tidak akan ada perubahan gaya hidup besar dan saya tidak akan harus mengubah siapa saya," ucap Sam.
Baca Selengkapnya »

Pertama kali puasa, Samuel kerap duduk di pinggir kolam renang

Pertama kali puasa, Samuel kerap duduk di pinggir kolam renang
Samuel Howat. ©instagram.com/thegirlbeneatheadscarf
Bukan hal mudah bagi Samuel Howat, warga negara Inggris, untuk menjalankan ibadah puasa pertama kali setelah resmi menjadi mualaf. Dia mengaku sangat sulit berpuasa, apa lagi puasa pertamanya dilakukan saat musim panas di Amerika Serikat.

"Pertama kali adalah selama musim panas di gurun Arizona. Jadi saya menemukan (puasa) itu cukup sulit," kata Sam, panggilan Samuel.

Saking sulitnya menjalani puasa pertama kali, Sam berpikir bahwa untuk sekedar minum diizinkan. Pikiran itu muncul karena sulitnya puasa di musim panas. Namun dia sadar bahwa hal itu syarat yang membatalkan puasa.

"Saya berpikir bahwa kita setidaknya harus diizinkan untuk minum sedikit air," ujarnya.

Lucunya, Sam menceritakan, jika setiap sore dia duduk di pinggir kolam renang dengan memasukkan kaki ke dalam air. Hal itu dia lakukan agar merasa segar saat menjalani puasa.

"Setiap sore saya duduk di sebelah kolam renang dengan kaki saya di dalam air, berharap aku bisa melompat," seloroh Sam.
Baca Selengkapnya »

Kisah WN Inggris mualaf karena sering nongkrong dengan teman muslim

Kisah WN Inggris mualaf karena sering nongkrong dengan teman muslim
Samuel Howat. ©instagram.com/thegirlbeneatheadscarf
Hidayah bisa datang kepada siapa saja dan dalam bentuk apa pun. Hal ini juga yang dialami oleh warga negara Inggris, Samuel Howat. Sejak tahun 2010 lalu, Sam sapaan Samuel memutuskan untuk memeluk agama Islam.

Sam mengungkapkan alasan memilih Islam sebagai agamanya. Dia merasa Islam memperkuat keyakinannya kepada Tuhan dan telah memandunya menjalani hidup.

"Keyakinan yang melekat dan filosofi menyelaraskan erat dengan Islam, jadi itu adalah langkah alami bagi saya. Saya merasa Islam bisa membantu memperkuat keyakinan saya dan memandu saya menjalani hidup," kata Sam.

Sam mengaku sudah mengetahui tentang Islam sebelum menjadi mualaf. Memiliki teman seorang muslim adalah salah satu faktor Sam memperdalam ajaran Islam hingga dirinya berhijrah menjadi seorang muslim

"Saya berteman dengan beberapa muslim dari berbagai negara-negara Afrika, dan saya datang untuk mengetahui Islam hanya dengan nongkrong dan mengobrol dengan mereka," ungkapnya.

Namun dia mengungkapkan, sebelum berteman dengan orang muslim tidak mengetahui apa pun mengenai Islam. Terlebih lagi Sam dibesarkan dari keluarga yang mayoritas beragama Kristen.

"Saya tidak benar-benar tahu apa-apa tentang hal itu (Islam). Saya dibesarkan di daerah yang sangat monoton di mana semua orang cukup banyak adalah orang kulit putih dan Kristen. Mata saya terbuka ketika saya mulai bepergian ke bagian lain dari dunia," ucap Sam.

Keputusannya pindah agama itu sangat didukung oleh keluarga besarnya yang mayoritas non muslim.

"Saya memiliki keluarga yang sangat mendukung. Mereka senang selama saya bahagia. Mereka sedikit khawatir bahwa beberapa orang mungkin tidak mengerti keputusan saya atau mungkin bereaksi negatif terhadap saya, tetapi mereka mempercayai saya dan bangga kepada saya," cerita Sam.

Sam mengaku banyak hikmah yang dia dapat setelah menjadi mualaf. Selain menemukan seorang istri, Sam mengaku lebih sabar dan percaya diri melakukan apa yang menurutnya benar.

"Terpisah dari menemukan istri saya. Saya lebih sabar, lebih terkontrol dan saya lebih percaya diri untuk melakukan apa yang saya yakini benar. Saya juga merasa saya memiliki pengetahuan jauh lebih baik dan pemahaman tentang dunia sekarang, meskipun saya masih memiliki jalan panjang," ujarnya.

Lebih lanjut dia menceritakan, tak ada diskriminasi yang dia dapatkan setelah menjadi mualaf. Akan tetapi, Sam merasa didiskriminasi ketika banyak orang menganggap keputusan menjadi mualaf hanya karena ingin menikah.

"Satu-satunya waktu saya merasa didiskriminasikan ketika orang menganggap bahwa karena saya (bule) putih, aku pasti masuk Islam hanya agar bisa menikahi istri saya. Pada kenyataannya, saya pindah agama sebelum bertemu dengannya," ucap Sam.
Baca Selengkapnya »

Pesan dalam mimpi dan penyakit bikin Marlanita teguh menjadi mualaf

Pesan dalam mimpi dan penyakit bikin Marlanita teguh menjadi mualaf
Panti Asuhan Muallaf. ©2016 Lintastoday
Saat penyakit parah tak kunjung sembuh, hanya bisa berbaring, rasa putus asa kerap mengintai. Serasa ingin hidup segera berakhir supaya penderitaan tidak berlarut-larut.

Seperti itulah sempat dirasakan Marlanita (42), warga Jalan Tamalate III, Kecamatan Rappocini, Makassar, Sulawesi Selatan.

Marlanita yang bernama asli Omi Kristiani, berasal dari Kabupaten Mamasa, Provinsi Sulawesi Barat, mulanya pemeluk Nasrani. Dia lalu menikah dengan Andi Ilham Nawir, yang saban hari bekerja sebagai pemandu wisata kemudian menjadi pengusaha biro jasa perjalanan. Bertahun-tahun mereka hidup berumah tangga dalam suasana beda agama karena suaminya seorang muslim. Namun, empat orang anak buah perkawinan semuanya laki-laki itu memilih mengikuti jejak ibunya beragama Nasrani.

Di awal 2009, Marlanita memutuskan memeluk Islam. Namun, dia mengaku saat itu belum sepenuhnya taat lantaran semata-mata hanya mengikuti suami. Dia mengakui kondisinya bisa disebut Islam 'KTP'.

Hingga suatu hari di pertengahan 2009, penyakit kanker payudara diidapnya sejak remaja kembali kambuh, bahkan kian parah. Tiga bulan Marlanita tidak bisa beraktivitas, dan hanya berbaring di tempat tidur. Darah selalu mengucur dari payudaranya yang nyaris rusak.

Marlanita yang ditemui Selasa (14/6) siang berkisah, tiba-tiba satu malam, tepatnya di malam Jumat sekira pukul 02.00 WITA, dia mimpi didatangi sosok berpenampilan seperti kiai duduk di depannya, sembari memegang tasbih berkilauan seperti emas. Wajahnya tidak jelas karena wujudnya seperti cahaya matahari terbit.

"Sosok kiai itu berkata ke saya bahwa kami bisa sembuh, asalkan menjernihkan pikiran dan ber-Islam dengan baik. Lalu saya diminta untuk berpuasa selama 70 hari berturut-turut dan menjalankan puasa Senin-Kamis. Belum lama memang saya memeluk Islam, tapi tidak begitu yakin. Saya kemudian berjanji untuk jalankan semua wejangan sosok kiai ini. Lalu saya diminta ke belakang rumah untuk mengambil dedaunan. Lalu meracikkan obat dari dedaunan itu untuk saya minum nanti. Semuanya seperti nyata," kata Marlanita.

Keesokan harinya, lanjut Marlanita, dia kemudian meminum air perasan dari dedaunan. Usai meneguk cairan itu, tiba-tiba darah mengucur terus dari payudara. Mendadak dia bisa bangun lagi dari pembaringan dan berangsur membaik.

Malam Jumat berikutnya, sosok kiai dalam mimpi Marlina muncul lagi. Marlina mengaku dia dibimbing bagaimana meracik obat-obatan dari dedaunan tertentu, juga menggambarkan jenis bahan yang bisa dibeli dari luar.

"Sejak saat itu saya mulai berpuasa selama 70 hari berturut-turut, juga puasa Senin-Kamis. Sungguh mukjizat dari Allah S.W.T., karena saya kuat puasa, yang selama ini saya tidak pernah lakukan, dan saya tidak pernah datang bulan selama puasa 70 hari itu. Hingga saatnya tiba, kanker yang saya derita benar-benar sembuh," tutur Marlanita.

Sejak saat itu, kata Marlanita, dia merasa mendapat hidayah dan mengakui kebesaran Allah S.W.T. Empat anaknya kemudian satu persatu masuk Islam. Hingga akhirnya pada 2012 lalu dia minta restu ke suaminya membuka sebuah panti asuhan. Suami Marlina mangkat dua tahun lalu.

Atas restu suaminya, panti asuhan itu diberi mana Panti Asuhan Al-Muallaf, dikelola Yayasan Al Anshar bentukan suaminya. Kini panti asuhan muallaf mengurus 37 anak. Yang sudah berusia cukup disekolahkan. Ada dua masih balita. Di antara mereka, ada yang kehilangan orang tua dan juga ada yang berasal dari keluarga miskin di beberapa daerah. Yaitu Makassar, Kabupaten Mamuju, Polman, Mamasa-Provinsi Sulawesi Barat, dan dari Flores. Mereka meninggalkan kampung halaman karena ingin sekolah.

Kini Marlanita dan anak-anak asuhnya hidup dalam keadaan sangat sederhana, bahkan sangat kurang. Setelah suaminya, Andi Ilham Nawir, meninggal, tidak ada lagi sandaran ekonomi menyusul tutupnya usaha biro perjalanan.

Marlanita kemudian menghidupi keluarga berikut anak-anak asuhnya dari jualan obat herbal racikannya. Marlanita meracik obat antara lain untuk kanker payudara, kista, dan obat bagi pasangan yang sulit mendapatkan anak.

"Dari jualan herbal, kemudian bantuan dari para dermawan panti ini bisa hidup. Termasuk mantan pasien yang sudah punya anak, datang mengucapkan terima kasih dengan memberi bantuan buat anak-anak. Rezeki itu selalu ada. Saya yakin dengan kebesaran Allah S.W.T.," ucap Marlanita dengan mata berkaca-kaca.

Kini, puluhan anak panti itu hidup dalam kesederhanaan. Kasur hanya beberapa. Mereka ada yang tidur meringkuk, dan melantai di atas karpet kusam. Cahaya dari bola lampu sangat temaram. Sebagian atap juga bocor sehingga tetesan air harus ditadahi dengan wadah.

"Saya mengajari anak-anak hidup sederhana, dan bagi yang waktunya sekolah, harus sekolah demi masa depan mereka sendiri nanti. Tahun ini ada delapan orang yang menyelesaikan jenjang SMA-nya," tutup Marlanita.
Baca Selengkapnya »

Gara-gara lihat teman indekos salat, wanita ini menjadi mualaf

Wednesday, 15 June 2016

Gara-gara lihat teman indekos salat, wanita ini menjadi mualaf
Sujud di bulan Ramadan. ©REUTERS
Pindah keyakinan, memang keputusan yang paling sulit bagi para mualaf karena harus dipikirkan secara matang dan penuh dengan keyakinan hati.

Gisella Yurike (24), salah satu pegawai swasta di Jakarta menuturkan, bahwa dia yakin untuk menjadi mualaf ketika sedang melihat teman satu indekos menunaikan ibadah salat. Ikke sapaan akrabnya beranggapan bahwa umat muslim ketika akan menghadap Tuhannya harus dalam keadaan suci. Hal itu lah yang mendorongnya untuk menjadi seorang mualaf.

"Waktu itu ketika saya masih kuliah di Bandung saya lihat teman indekosan saya sedang menunaikan ibadah salat. Saat itu saya tidak ada pegangan sama sekali. Saya memang menganut agama katolik waktu itu, tapi saya tidak beriman. Pada saat itu logika saya tidak dapat menerima ajaran itu. Batin saya terus bergejolak, hingga suatu ketika saya melihat teman saya sedang menunaikan ibadah salat, saya berfikir umat muslim saja ketika akan bertemu dengan Tuhan-Nya harus keadaan suci terlebih dahulu, kalau kita dalam keadaan haid pun kita tidak boleh memegang Alquran. Titik balik saya ada disitu," ucap Yurike kepada merdeka.com.

Alumni salah satu universitas di Bandung itu mengaku, bahwa sebenarnya dia tidak ada pikiran untuk pindah keyakinannya dan menjadi seorang mualaf. Namun, gejolak batin yang terus menyelimuti, menuntunnya untuk menjadi seorang mualaf.

"Saya sebelumnya tidak ada pikiran sama sekali untuk jadi mualaf. Saya sempat membuka dan membaca alkitab lagi, saya cari-cari permasalahan saya di situ, tapi tidak menemukan jawabannya. Saya sempat membaca buku-buku tentang mualaf yang ada di luar negeri. Dua tahun saya nyari Islam, logika saya masih menerima semua yang diajarkan di Islam," tuturnya.

Sampai pada akhirnya dia menghilang selama empat bulan, usai mengucapkan kalimat syahadat yang dituntun oleh Ustadzah Irena Handono yang memiliki latar belakang hampir mirip dengannya.

"Saya mengucapkan kalimat syahadat pada tanggal 4 Desember 2014, saya memilih bulan Desember karena saya berfikiran jika mulai tahun itu saya sudah tidak bertemu natal lagi. Umi Irena meyakinkan saya berkali-kali, tapi saya semakin mantap dan yakin untuk menjadi mualaf. Setelah mengucapkan kalimat syahadat, saya sempat menghilang 4 bulan dan tidak menyentuh skripsi saya. Karena saat itu termasuk guncangan besar dalam diri saya, akhirnya saya ngobrol dengan dosen pembimbing saya tentang permasalahan saya, dan dia yang memberi tahu saya tentang mualaf-mualaf yang ada di Bandung," ungkapnya.

Dia sempat menyembunyikan agama barunya dari orang tuanya selama 10 bulan. Tapi, ketika dia memohon petunjuk dari Allah dengan salat tahajud beri jalan untuk memberitahu kepada orang tuanya tentang agama barunya.

"Selama 10 bulan saya sempat menyembunyikan agama baru saya kepada orang tua saya. Sampai suatu ketika, saya salat tahajud dan pada malam ketujuh saya di kasih pencerahan. Usai salat subuh, saya lupa rapikan mukena. Langsung saja saya taruh di dalam lemari baju saya, karena saat itu saya sudah terlambat masuk kerja. Pulang kerja, saat saya mau salat, saya lihat mukena saya sudah rapih. Dari situlah saya terus terang kepada orangtua saya mengenai agama baru saya," papar Yurike.

Pada puasa pertama sejak menjadi seorang mualaf, dia mengaku melaksanakan puasa di kota Bandung. Dia sengaja memilih puasa di Bandung agar orang tuanya tidak curiga bahwa tengah menjalankan ibadah puasa.

"Puasa pertama saya setelah menjadi seorang mualaf yaitu puasa di tahun 2015, saya ada di Bandung. Saya sengaja di Bandung, agar orang tua saya tidak curiga. Hingga saat ini orang tua saya tetap menentang keyakinan baru saya, namun Alhamdulillah puasa tahun ini, ibu saya perlahan-lahan mulai mencair, ibu saya mulai menghangatkan nasi atau sayur untuk saya sahur," ucapnya.

Yurike pun berharap jika tahun ini ia ingin melaksanakan salat ied di masjid Istiqlal yang berada di Jakarta Pusat.

"Tahun ini saya ingin lebaran dan salat ied di masjid Istiqlal, saya juga ingin lebaran seperti keluarga-keluarga muslim lainnya, saling memaafkan. Saya juga ingin lancar membaca Alquran dan memakai hijab," tutupnya.
Baca Selengkapnya »

Gara-gara iklan sirup, gadis cantik ini memutuskan jadi mualaf

Wednesday, 8 June 2016

Gara-gara iklan sirup, gadis cantik ini memutuskan jadi mualaf
Gisella mualaf karena iklan sirup. ©daaruttauhiid.org
Hidayah bisa datang kepada siapa saja dan dalam bentuk apa pun. Seperti yang dialami oleh perempuan cantik asal Bandung, Gisella. Dia mantap memeluk agama Islam setelah sering kali melihat iklan sirup di televisi.

"Menjelang Ramadan, iklan-iklan sirup kan sering muncul di televisi. Isi iklannya tentang kehangatan keluarga, berbuka puasa, mudik lebaran, dan itu membuat saya mulai menyukai Islam," kata Gisella, dikutip dari situs Daaruttauhiid.org.

Dia menjelaskan, dalam iklan tersebut tergambar bagaimana kehangatan keluarga saat menjalankan ibadah puasa. Selain itu, Gisella juga mengaku kerap mengikuti tausiyah Aa Gym dan istrinya yang sangat menyentuh di media sosial. Oleh karena itu, dirinya semakin tergugah untuk menjadi seorang mualaf.

"Kehangatan suasana berbuka puasa, makan sahur, bahkan hari raya, tergambar dalam iklan itu. Saya suka sekali melihatnya. Teman-teman saya yang muslim juga orang-orangnya menyenangkan. Saya juga follow akun Aa Gym dan teteh di media sosial, kata-katanya sangat menyentuh hati. Dari situ, saya mantap masuk Islam," jelasnya.

Gisella menceritakan, bahwa dia terlahir dari keluarga nonmuslim. Dia merasa tidak mendapat ketenangan hati saat beribadah dalam agama yang dianutnya itu. Terlebih lagi orang tuanya kerap marah ketika ditanya soal konsep agama terdahulu.

"Tidak ada ketenangan yang didapat," ucapnya.

Gisella mengucapkan dua kalimat syahadat pada Minggu 10 April 2016 di Masjid Daarut Tauhiid, Bandung, saat mengikuti Kajian Muslimah bersama Ustazah Ninih Muthmainnah (Teh Ninih), istri Aa Gym.
Baca Selengkapnya »