Kisah Rasulullah menghukum Kaab bin Malik tak diajak bicara 50 hari

Friday, 23 June 2017

Kisah Rasulullah menghukum Kaab bin Malik tak diajak bicara 50 hari
Rasulullah SAW
Salah satu perang kenamaan di masa Rasulullah adalah Perang Tabuk. Perang ini terjadi pada tahun kesembilan Hijriah, tepatnya pada bulan Rajab. Berdasarkan beberapa riwayat, seperti dalam kitab Sirah Nabawiyyah karya Ibnu Hisyam, perang ini merupakan perang yang berat karena cuaca yang kering, keadaan paceklik, serta lokasi peperangan yang jauh. Kisah berikut disarikan dari keterangan kitab tersebut.

Di antara rombongan umat muslim itu, tersebutlah Kaab bin Malik yang tidak ikut serta dalam keberangkatan menuju Perang Tabuk. Sebelumnya, Kaab bin Malik dikenal di kalangan sahabat sebagai orang yang terpercaya, golongan orang-orang yang pertama masuk Islam, dan selalu mengikuti perang bersama Nabi. Orang-orang tidak meragukan keimanannya.

Sayangnya, pada perang Tabuk ini, Kaab bin Malik ketinggalan rombongan sebab keterlambatannya dalam menyiapkan perbekalan. Saat Kaab masih bingung dalam persiapan menuju medan perang Tabuk, ternyata Nabi dan sahabat lain sudah bergegas menuju medan peperangan.

Kaab bin Malik pun gelisah karena keterlambatannya ini. Ia mengetahui bahwa ketika ada umat muslim yang mangkir dari perang, dan bukan disebabkan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan, maka hal tersebut adalah termasuk dosa yang besar.

Dalam kegelisahannya itu, ketika keluar rumah, ia menemui bahwa yang masih berada di sekitar lingkungannya adalah orang-orang yang bermaksud mangkir dari peperangan – konon disebut kaum yang munafik – dan orang-orang lemah yang tidak mampu berperang.

Di sisi lain, seusai perang, Rasulullah SAW baru menyadari bahwa Kaab bin Malik tidak ikut serta dalam perang Tabuk itu. Ia menanyakan pada para sahabat,

"Kemanakah Kaab bin Malik?"

Kemudian ada yang mengatakan, konon seorang sahabat dari Bani Salimah, mempertanyakan jangan-jangan Kaab ini mementingkan dirinya sendiri. Tapi langsung ia didamprat oleh sahabat Muadz bin Jabal ra.

"Perkataanmu buruk sekali! Tidak pantas kau katakan itu atas Kaab bin Malik!"

Kaab menjadi resah saat ia tahu bahwa ia tertinggal dan absen dari perang. Hal yang ia resahkan, adalah bagaimana ia akan berujar pada Nabi tentang keadaan yang menimpanya. Sempat ada hasrat berbohong, tapi ia urungkan.

Setibanya Nabi di Madinah, lalu menunaikan sembahyang sebagaimana beliau amalkan seusai perang, orang-orang yang tidak mengikuti perang mendatangi beliau dan menyampaikan alasan-alasan mereka. Disebutkan kurang lebih delapan puluh orang. Nabi menerima alasan mereka, dan mengatakan bahwa beliau menyerahkan urusan kebenaran dalam hati mereka dengan Allah. Kaab bin Malik pun menjadi rikuh.

Ia beranikan diri mendatangi Nabi, lantas berkata dengan jujur.

"Sejujurnya Nabi, tidak ada yang menghalangi saya untuk mengikuti perang. Saya rela mendapat hukuman atas kesalahan yang telah saya perbuat. Daripada saya mendapat murka Allah atas alasan-alasan yang saya perbuat, lebih baik saya mendapat hukuman darimu, Nabi."

Mendengar pengakuan yang tulus itu, Nabi menerimanya. Namun karena beliau tahu bahwa kesalahan yang diperbuat Kaab bin Malik adalah kesalahan yang besar, maka beliau memutuskan untuk menunggu jawaban dari Allah. Rupanya selain Kaab bin Malik, ada dua sahabat lainnya yang mengalami hal serupa, dengan alasan yang sama dengan Kaab bin Malik.

Beberapa hari kemudian, Nabi memerintahkan para sahabat untuk tidak mengajak bicara Kaab bin Malik dan dua sahabat lainnya itu sebagai bentuk hukuman. Tentu saja bagi mereka bertiga, hal itu terasa menyesakkan perasaan. Dalam riwayat, Kaab bin Malik berusaha bertingkah biasa, namun bagaimanapun ia merasakan tekanan yang berat saat diabaikan oleh sahabat-sahabat lainnya.

Ia sempat berjumpa seorang sahabat, lantas bertanya, "Tidak tahukah engkau bahwa aku ini sungguh mencintai Allah dan Rasul-Nya?"

Sahabat itu menjawab, "Hanya Allah dan Rasul-Nya yang mengetahui tentang hal itu,"

Kaab bin Malik semakin kesulitan. Kemudian pada hari keempat puluh, Nabi menambahkan bahwa Kaab bin Malik dan dua sahabat lainnya yang tidak ikut perang tersebut diminta untuk tidak mendekati istri-istri mereka. Tak terasa, hukuman itu terjadi sampai lima puluh hari. Pada hari kelima puluh itu, Kaab bin Malik melakukan salat sebelum fajar, lantas mengadukan masalahnya kepada Allah.

"Kaab!" Terdengar suara Nabi memanggil. Kaab bin Malik terkejut.

"Sungguh, ampunan Allah sudah tiba untuk kalian bertiga!” terang Rasulullah berseri-seri.

Kemudian Rasulullah menyebutkan tiga ayat dari surat At Taubah, yaitu ayat 117 sampai 119 yang menjelaskan tentang ampunan Allah untuk mereka bertiga.

Kaab merasakah bahagia, yang dalam riwayat disebutkan bahwa ia tak pernah sebahagia itu sejak dilahirkan ibunya. Kejujurannya berbuah manis, meski ia harus menanggung konsekuensi atas alasan yang ia sampaikan akibat keterlambatannya mengikuti perang.

Dan memang diriwayatkan bahwa alasan keteledoran mereka itu, bukanlah bermaksud untuk berpaling dari kewajiban perang, sehingga Allah mengampuni mereka bertiga. Setiap kejujuran memang sering berimbas pahit, namun bagaimanapun, ia adalah sikap berani mempertanggungjawabkan kesalahan, sebagaimana dicontohkan Kaab bin Malik dan dua sahabat itu.
Baca Selengkapnya »

Hati Rasulullah hancur lihat anak sahabatnya menangis di Idul Fitri

Hati Rasulullah hancur lihat anak sahabatnya menangis di Idul Fitri
Rasulullah SAW
Di suatu hari raya Rasulullah SAW keluar rumah untuk melaksanakan shalat Idul Fitri. Sementara anak-anak kecil tengah bermain riang gembira di jalanan. Tetapi tampak seorang anak kecil duduk menjauh berseberangan dengan mereka. Dengan pakaian sangat sederhana dan tampak murung, ia menangis tersedu.

Melihat hal itu Rasulullah SAW segera menghampiri anak tersebut. "Nak, mengapa kau menangis? Kau tidak bermain bersama mereka?" Rasulullah membuka percakapan.

Anak kecil tersebut tidak mengenali bahwa orang dewasa di hadapannya adalah Rasulullah SAW. Beliau menjawab, "Paman, ayahku telah wafat. Ia mengikuti Rasulullah SAW dalam menghadapi musuh di sebuah pertempuran. Tetapi ia gugur dalam medan perang tersebut."

Rasulullah SAW terus mengikuti cerita anak yang murung tersebut. Sambil meraba ke mana ujung cerita, Rasulullah SAW mendengarkan dengan seksama rangkaian peristiwa dan nasib malang yang menimpa anak tersebut.

"Ibuku menikah lagi. Ia memakan warisanku, peninggalan ayah. Sedangkan suaminya mengusirku dari rumahku sendiri. Kini aku tak memiliki apapun. Makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal. Aku bukan siapa-siapa. Tetapi hari ini, aku melihat teman-teman sebayaku merayakan hari raya bersama ayah mereka. Dan perasaanku dikuasai oleh nasib kehampaan tanpa ayah. Untuk itulah aku menangis."

Mendengar penuturan ini, hati Rasulullah SAW hancur. Ternyata ada anak-anak yatim dari sahabat yang gugur membela agama dan Rasulnya di medan perang mengalami nasib malang begini.

Rasulullah SAW segera menguasai diri. Rasul yang duduk berhadapan dengan anak ini segera menggenggam lengannya.

"Nak, dengarkan baik-baik. Apakah kau sudi bila aku menjadi ayah, Aisyah menjadi ibumu, Ali sebagai paman, Hasan dan Husein sebagai saudara, dan Fatimah sebagai saudarimu?" tanya Rasulullah. Seperti dikutip dari Durratun Nashihin karya Syekh Usman bin Hasan bin Ahmad Syakir Al-Khubawi, tanpa tahun, Surabaya, Syirkah Ahmad bin Saad bin Nabhan wa Auladuh, halaman 264-265.

Mendengar tawaran itu, anak ini mengerti seketika bahwa orang dewasa di hadapannya tidak lain adalah Nabi Muhammad SAW.

"Kenapa tak sudi ya Rasulullah?" jawab anak ini dengan senyum terbuka.

Rasulullah SAW kemudian membawa anak angkatnya pulang ke rumah. Di sana anak ini diberikan pakaian terbaik. Ia dipersilakan makan hingga kenyang. Penampilannya diperhatikan lalu diberikan wangi-wangian.

Setelah beres semuanya, ia pun keluar dari rumah Rasulullah dengan senyum dan wajah bahagia. Melihat perubahan drastis pada anak ini, para sahabatnya bertanya. "Sebelum ini kau menangis. Tetapi kini kau tampak sangat gembira?"

"Benar sahabatku. Tadinya aku lapar, tetapi lihatlah, sekarang tidak lagi. Aku sudah kenyang. Dulunya aku memang tidak berpakaian, tetapi kini lihatlah. Sekarang aku mengenakan pakaian bagus. Dulu memang aku ini yatim, tetapi sekarang aku memiliki keluarga yang sangat perhatian. Rasulullah SAW ayahku, Aisyah ibuku, Hasan dan Husein saudaraku, Ali pamanku, dan Fatimah adalah saudariku. Apakah aku tidak bahagia?"

Mendengar sahabatnya, mereka tampak menginginkan nasib serupa. "Aduh, cobalah ayah kita juga gugur pada peperangan itu sehingga kita juga diangkat sebagai anak oleh Rasulullah SAW."

Waktu terus berjalan. Usia semakin bertambah. Kebahagiaan anak ini pun lenyap ketika selang beberapa tahun setelah itu Rasulullah SAW meninggal dunia. Meratapi kepergian ayah angkat paling mulia ini, ia keluar rumah seraya menaburkan debu di atas kepalanya.

"Celaka, sungguh celaka. Kini aku kembali terasing. Aku bukan siapa-siapa lagi. Aku kini menjadi yatim. Sepi," katanya terisak.

Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq yang menyaksikan anak ini segera memeluknya. Sayyidina Abu Bakar kemudian mengambil alih pengasuhannya.
Baca Selengkapnya »

Candaan cerdas Rasulullah SAW saat diisengin Ali bin Abi Thalib

Wednesday, 21 June 2017

Candaan cerdas Rasulullah SAW saat diisengin Ali bin Abi Thalib
Rasulullah
Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah SWT, juga manusia biasa, meski tak seperti manusia biasa (basyarun laysa kal basyari). Sebagai manusia, Nabi Muhammad SAW tak lepas dari perilaku umumnya manusia, termasuk bercanda, yang tak sampai merendahkan martabatnya.

"Nabi juga suka bercanda," ungkap Kiai Ahmad Muwaffiq. Kisah ini disampaikan dalam peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad di Masjid Al-Fathonah, Kesatrian, Purworejo, Jumat (31/3). Seperti dilansir nu online.

Merujuk dari sebuah Hadits riwayat Imam Bukhari, pendakwah NU yang kini tinggal di Jombor, Sleman, Yogyakarta tersebut mengisahkan kepada para jemaah yang hadir.

Suatu ketika, Nabi dan Sahabat berbuka puasa. Salah satu menu yang tersaji adalah kurma. Merekapun menikmatinya, dan meletakkan sampah berupa biji kurma di depan masing-masing.

Merasa biji yang ada di depannya terlalu banyak, keisengan Sayyidina Ali pun muncul. Ia kemudian memindahkan biji-biji itu ke hadapan Nabi, mencampurkan dengan biji sisanya, kemudian berseloroh.

"Apa engkau begitu lapar, wahai Nabi, sehingga begitu banyak kurma yang engkau habiskan," kata Sayyidina Ali, sambil melihat tumpukan biji kurma di depan Nabi.

Mendengar keisengan ini, Nabi pun tak marah, apalagi mencaci maki Sayyidina Ali. Dengan cerdas, beliau membalas keisengan tersebut.

"Bukannya kau yang justru terlalu lapar, wahai Ali. Lihat di depanmu, tak hanya kurmanya yang engkau makan, tetapi juga sekaligus biji-bijinya," balas Nabi, seperti ditirukan Kiai Muwaffiq.
Baca Selengkapnya »

Cara Rasulullah menyenangkan tuan rumah yang makanannya tak enak

Monday, 19 June 2017

Cara Rasulullah menyenangkan tuan rumah yang makanannya tak enak
Buka puasa di Masjid Istiqlal. ©2017 Lintastoday
Setiap orang mempunyai makanan dan minuman kesukaan atau favorit. Pastinya suatu makanan dan minuman dijadikan favorit karena kelezatannya sehingga membuat nafsu makan bertambah.

Makan akan terasa nikmat bila sajian sesuai dengan lidah. Kendati demikian, tidak pantas ketika mencela makanan yang dirasa kurang enak.

"Dari Abu Hurairah ra, ia berkata Rasulullah SAW sama sekali tidak pernah mencela makanan. Jika menyukai beliau memakannya. Dan apabila tidak suka, beliau tinggalkan." (Muttafaq Alaih). Dikutip dari buku 165 Kebiasaan Nabi Saw tulisan Abduh Zulfidar Akaha.

Tidak mencela makanan ialah suatu etika yang baik ketika menghadapi makanan yang tidak enak atau tidak disukai. Karena hal itu merupakan ungkapan rasa syukur kepada Allah atas nikmat yang Dia berikan kepada hambanya.

Jabir bin Abdillah ra berkata, "Bahwasanya Nabi SAW menanyakan lauk kepada keluarganya dan mereka menjawab, 'Kami tidak punya apa-apa selain cuka'. Lalu beliau meminta cuka dan makan dengan cuka. Kemudian beliau berkata 'lauk yang paling enak adalah cuka!'." (HR Muslim).

Rasulullah sering tidak mendapatkan lauk ketika makan dan hanya mempunyai cuka. Setiap orang tau bahwa makan dengan lauk cuka tidak lebih enak dibanding dengan lauk yang lain. Namun inilah sifat Rasulullah yang sama sekali tidak pernah mencela.
Baca Selengkapnya »

Ini pemuda suku Ghifar yang pertama kali memberi salam ke Rasulullah

Ini pemuda suku Ghifar yang pertama kali memberi salam ke Rasulullah
Rasulullah SAW
Di Lembah Waddan yang menghubungkan Mekkah dengan dunia luar, tinggal suku Ghifar. Hidup mereka sangat kekurangan dan bergantung pada pemberian kafilah saudagar Quraisy yang pulang pergi ke Syam. Tidak jarang pula mereka merampok kafilah-kafilah yang lewat di situ apabila permintaan mereka tidak dipenuhi.

Abu Dzar ialah pemuda Ghifar yang berbeda dengan yang lain. Baik dari keberaniannya maupun kecerdasannya. Dia pemberani dan berpikiran cemerlang. Dia menilai sukunya sangat bodoh karena menyembah berhala.

Suatu hari, Abu Dzar mendengar kabar tentang kedatangan seorang Nabi baru. Nabi yang bernama Muhammad itu mengajak manusia untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Abu Dzar ingin sekali bertemu dengan orang tersebut.

Kemudian dia ke Mekkah. Tiba di Mekkah menyamar sebagai musafir. Dia menyamar agar terhindar dari kejahatan kaum Quraisy. Setelah malam tiba, Abu Dzar tidur di masjid. Saat itu, kebetulan Ali bin Abi Thalib lewat di dekatnya. Ali tahu bahwa Abu Dzar orang asing di Mekkah.

"Marilah ikut saya, hai orang asing!," ajak Ali, dikutip dari buku Kisah Seru 60 Sahabat Rasul tulisan Ummu Akbar.

Abu Dzar ikut bersama Ali ke rumahnya dan bermalam di sana. Pada pagi hari, Abu Dzar kembali ke masjid membawa kantong perbekalannya. Abu Dzar melalui hari kedua sama seperti hari pertama, belum mendapat berita tentang Nabi yang dicarinya.

Ali kembali mengajak Abu Dzar bermalam di rumahnya. Mereka masih diam dan tidak saling bertanya. Barulah pada malam ketiga Ali bertanya kepada Abu Dzar. "Mudah-mudahan Anda tidak keberatan mengabarkan kepada saya maksud kedatangan Anda ke Mekkah," kata Ali.

Abu Dzar mengatakan bersedia menjelaskan kedatangannya bila Ali mau membantunya. Ali pun berjanji akan membantunya. "Saya datang ke sini dari jauh. Saya sengaja hendak bertemu dengan Nabi Muhammad dan ingin mendengar apa yang dikatakannya," ujar Abu Dzar.

Sambil bersumpah atas nama Allah, Ali mengatakan bahwa Nabi Muhammad ialah Rasulullah SAW. Ali juga menceritakan bukti kerasulan Muhammad dan dakwah beliau. Keesokan harinya Ali dan Abu Dzar pergi ke rumah Rasulullah. Setibanya di rumah Rasulullah, Abu Dzar memberi salam. "Assalamu alaika ya Rasulullah!".

Rasulullah pun menjawab salam Abu Dzar. Sejarah Islam mencatat bahwa Abu Dzar orang yang pertama memberi salam dengan ucapan Assalamualaikum kepada Rasulullah. Setelah itu Assalamualaikum tersebar luas dan merata di kalangan umat muslim.

Rasulullah pun mengajak Abu Dzar memeluk Islam. Beliau membacakan ayat-ayat suci Alquran kepadanya. Abu Dzar langsung mengucapkan kalimat syahadat di hadapan Rasulullah.

Setelah beberapa lama di Makkah, Rasulullah menyuruh Abu Dzar pulang ke kampungnya. Dia juga diperintahkan untuk mengajak kaumnya beribadah kepada Allah. Nanti setelah Rasulullah berdakwah terang-terangan Abu Dzar bisa bergabung dengan Rasulullah di Mekkah.

Abu Dzar pulang ke suku Ghifar. Dia mengajak keluarganya untuk memeluk agama Islam. Abu Dzar berdakwah tak kenal lelah demi Islam.
Baca Selengkapnya »

Mencontoh persahabatan Rasulullah SAW dan Sayidina Abu Bakar

Mencontoh persahabatan Rasulullah SAW dan Sayidina Abu Bakar
Rasulullah SAW. ©2014 Lintastoday
Islam memerintahkan umatnya untuk mencari sahabat yang baik, beriman dan taat kepada Allah. Ciri-ciri sahabat yang soleh ialah tidak mementingkan diri sendiri serta dapat dijadikan tempat untuk mengadu apabila ditimpa masalah.

Seorang sahabat yang baik akan saling mengingatkan apabila melakukan kekhilafan dan tidak terlalu mementingkan keduniaan. Tetapi menganjurkan selalu melakukan kebaikan. Dikutip dari buku 100 Pesanan Terakhir Rasulullah tulisan Muhd Nasruddin Dasuki.

Contoh persahabatan yang dapat dijadikan teladan ialah antara Sayidina Abu Bakar dengan Rasulullah. Di mana Abu Bakar senantiasa mempercayai dan mengiyakan apa yang dikatakan oleh Rasulullah.

Seperti kala Rasulullah menceritakan perjalanan Isra Miraj, ramai di kalangan penduduk kota Mekkah. Banyak orang tidak percaya dan mengatakan cerita Rasulullah itu bohong.

Orang-orang yang tidak percaya menemui Syaidina Abu Bakar untuk bertanya soal kebenaran cerita Rasulullah. Namun Syaidina Abu Bakar membenarkan cerita itu.

Sayidina Abu Bakar bukan cuma mempercayai kata-kata Rasulullah, akan tetapi dia juga sanggup mempertahankan amanah dan harta demi kepentingan perjuangan Islam.

Sebagai sahabat sejati, Sayidina Abu Bakar rela memberikan komitmen untuk bersama-sama Rasulullah berhijrah dari Mekkah ke Madinah. Meskipun dia tahu perjalanan itu sangat berbahaya karena terpaksa berhadapan dengan musuh-musuh Rasulullah yang ingin membunuhnya.

Itulah contoh persahabatan yang setia. Kiranya kita dapat meneladani kisah persahabatan Rasulullah ini.
Baca Selengkapnya »

Ini budak yang beruntung bisa memandikan jenazah Rasulullah

Sunday, 18 June 2017

Ini budak yang beruntung bisa memandikan jenazah Rasulullah
Kaligrafi Nabi Muhammad SAW. ©2017 wallpaperislami.com
Saat Nabi Muhammad SAW berusia 63 tahun, tepatnya di tanggal 12 Rabiul Awal, Allah SWT memanggil kekasihnya itu untuk meninggalkan dunia untuk selama-lamanya. Saat Rasulullah wafat, umat Islam di seluruh penjuru dunia diliputi kesedihan.

Ada yang ikhlas, ada juga yang tak menerima kenyataan tersebut, seperti Umar bin Khattab. "Siapa yang bilang Rasulullah sudah wafat, akan aku tebas batang lehernya!" ancam Umar. Namun akhirnya Umar bisa menerima keputusan Allah SWT tersebut.

Tak sedikit sahabat dan umat Rasulullah yang bersedia untuk memandikan manusia paling agung di dunia tersebut. Salah satu yang beruntung adalah Syuqran, seorang budak pada zaman itu.

Dikutip dari buku Bilik-bilik Cinta Muhammad, karya Nizar Abazhah mengungkapkan, tak sedikit sahabat yang dicegah mendatangi prosesi pemandian tersebut. Namun, Syuqran berhasil menjadi bagian dari prosesi tersebut.

Hal ini tentu menjadi kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri bagi Syuqran. Selain memandikan, Syuqran juga ikut turun ke liang lahat Kekasih Allah tersebut saat prosesi penguburan.

Dia bentangkan pada jenazah Beliau beludru yang biasa dipakai untuk sajadah salat sambil berkata, "Demi Allah, takkan ada lagi yang memakai (beludru) ini peninggalanmu Rasulullah."
Baca Selengkapnya »

Kisah perjalanan Isra Miraj Rasulullah SAW

Sunday, 3 July 2016

Kisah perjalanan Isra Miraj Rasulullah SAW
Rasulullah SAW. ©istimewa
Pada malam itu langit Makkah berselimut awan gelap menyelimuti seluruh penjuru kota yang disertai desir angin yang membawa hawa dingin. Saat itu Rasulullah SAW sedang berada di dalam rumahnya dan terkejut ketika melihat malaikat Jibril yang mendatanginya secara tiba-tiba.

Dia memerintahkan Nabi Muhammad untuk segera tawaf di Kabah sebanyak tujuh kali. Tanpa berkata apa-apa lagi, Baginda Rasul pun langsung bergegas meninggalkan rumah. Beliau menuju Masjid Al-Haram untuk segera melakukan tawaf sebanyak tujuh kali putaran. Segala hawa dingin yang menyerangnya dilewati begitu saja demi melaksanakan tawaf.

Setelah menyelesaikan putaran terakhir, tiba-tiba muncul hewan bernama Buraq. Kulitnya yang putih, tingginya melebihi keledai, dan kecepatannya sejauh mata memandang. Rasulullah pun segera menaiki punggung Buraq, dan diikuti oleh Jibril dari belakang menuju Masjid Al-Aqsha.

Dikutip dari The Great Story of Muhammad karangan Ahmad Hatta, dalam sekejap Nabi Muhammad tiba di Masjid Al-Aqsha. Setibanya di Masjid Al-Aqsha, Rasulullah terkejut ketika melihat para nabi telah menunggu kedatangannya dari Nabi Adam AS hingga Nabi Isa AS.

Wajah mereka memancarkan kesucian, cahaya kenabian dan kerasulan. Semuanya turun dari langit untuk menyambut Rasulullah. Para Nabi pun segera berdiri dan berbaris untuk salat di Baitul Maqdis, dan Rasulullah terpilih untuk memimpin salat bersama para nabi. Hal itu menjadi bukti bahwa para nabi telah menyerahkan jabatan imam sekaligus penuntun umat kepada beliau. Allah SWT berfirman, "Dan tanyakanlah kepada rasul-rasul kami yang telah Kami utus sebelum kamu: 'Adakah Kami menentukan tuhan-tuhan untuk disembah untuk disembah selain Allah Yang Maha Pemurah?". (QS Az-Zukhruf ayat 45).

"Maha Suci Alla, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui," (QS Al-Isra ayat 1).

"Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratulmuntaha. Didekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratulmuntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar." (QS An-Najm ayat 13-18)

Rasulullah dan malaikat Jibril pun sampai pada batas langit dengan dunia, setelah pintu langit dibuka Rasulullah bertemu dengan Nabi Adam. Beliau memberi salam kepadanya dan Nabi Adam pun membalas serta menyambut kedatangannya dan mengakui kerasulan Nabi Muhammad SAW.

Allah SWT memperlihatkan arwah orang-orang yang berbahagia di sisi kanan dan arwah-arwah yang sengsara disisi kiri kepada Nabi Muhammad. Pada langit kedua, Nabi Muhammad bertemu Nabi Yahya dan Nabi Isa. Nabi Muhammad un mengucapkan salam dan kedua Nabi tersebut membalas salamnya, dan menyambut kedatangannya serta mengakui kerasulannya.

Pada langit ketiga dia berjumpa dengan Nabi Yusuf, dia membalas salam Baginda Rasul dan menyambut kedatangannya serta mengakui kerasulannya. Kemudian Nabi Muhammad dinaikkan kembali ke langit keempat, beliau bertemu Nabi Idris dan mengucapkan salam kepadanya. Nabi Idris membalas salamnya, dan menyambutnya serta mengakui kerasulannya.

Pada langit kelima, Rasulullah bertemu dengan Nabi Harundan mengucapkan salam padanya. Nabi Harun juga membalas salamnya dan menyambut kedatangan Nabi Muhammad dan mengakui kerasulannya. Selanjutnya, pada langit keenam, Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Musa, beliau pun menjawab salam dan menyambut serta mengakui kerasulannya.

Namun, pada saat Nabi Muhammad beranjak ke Sidratulmuntaha, Nabi Musa menangis karena umat pemuda yang diutus sebagai rasul sesudah Nabi Musa lebih banyak yang masuk surga daripada umatnya. Rasulullah melanjutkan perjalanan pada langit ke tujuh. Dia bertemu dengan Nabi Ibrahim, Beliau mengucapkan salam dan Nabi Ibrahim membalas salam menyambut kedatangannya serta mengakui kerasulannya.

Tibalah Rasulullah pada perjalanannya yaitu ke Sidratulmuntaha. Pada perjalannannya tersebut malaikat Jibril berhenti dan tidak menemani kembali Nabi Muhammad. Rasulullah takjub melihat Sidratulmuntaha, di dalamnya terdapat pepohonan yang daunnya sebesar telinga gajah ditutupi dengan permadani berwarna-warni dari emas dan cahaya.

Setelah itu Rasulullah dinaikkan menuju Baitul Makmur, Nabi Muhammad tidak melihat Allah SWT dalam wujud-Nya. "Aku tidak dapat melihatnya. Aku hanya melihat cahaya," ucap Muhammad SAW (HR. Muslim).

Di hadapan Allah, Rasulullah mendapat perintah salat dengan mewajibkan salat 50 waktu kepadanya dan umatnya. Setelah menerima perintah tersebut, Rasulullah kembali ke bawah dan bertemu dengan Nabi Musa. Nabi Musa menyarankan kepada Nabi Muhammad untuk meminta keringanan kepada Allah. Setelah tiga kali menghadap Allah SWT, Nabi Muhammad diberi keringanan oleh Allah untuk salat lima waktu. Tuntas sudah perjalanan Rasulullah melakukan Isra Miraj.

Malam itu juga beliau kembali ke rumah. Dirinya sangat terkejut ketika melihat bantal di rumahnya yang masih sama saat dia tinggalkan.
Baca Selengkapnya »

Rasulullah paling tak suka mendengar istri dan anaknya bicara buruk

Thursday, 30 June 2016

Rasulullah paling tak suka mendengar istri dan anaknya bicara buruk
Rasulullah SAW. ©istimewa
Nabi Muhammad SAW, orang yang tidak rela melihat dosa dan kesalahan. Beliau tak akan pernah diam. Rasulullah selalu beramar makruf nahi munkar. Amar makruf nahi munkar merupakan sebuah perintah untuk mengajak atau menganjurkan hal-hal yang baik dan mencegah hal-hal yang buruk bagi seseorang.

Sebab, itu artinya beliau membenarkan atau mensyariatkan apa yang beliau saksikan. Ini dimulai Rasulullah dari keluarganya sendiri. Disampaikannya kepada mereka perintah dan larangan. Dan, ini dilakukan beliau dengan sungguh-sungguh sampai keadaan mereka benar-benar baik. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa darimu, hai ahlul bait dan membersihkanmu sebersih-bersihnya.

Tidak ada keringanan apa pun buat keluarga Rasulullah. Juga tak ada keisitimewaan, banyak ataupun sedikit. Rasulullah bersabda, "Wahai Fatimah putri Muhammad, sama sekali tak ada yang bisa kau andalkan dariku di sisi Allah!".

Dikutip dari buku Bilik-bilik Cinta Muhammad, karya Nizar Abazhah mengisahkan, Rasulullah pernah mengunjungi rumah Fatimah akan tetapi tidak masuk. Setelah Ali datang, Fatimah menceritakan hal itu. Kemudian Ali pun menemui Rasulullah, "Ku lihat di pintu rumahnya ada tabir berhias. Bagiku dunia tak ada apa-apanya!" jelas Beliau.

Ali pulang menemui Fatimah lalu menceritakan apa yang dikatakan sang ayah. "Berikan saja tabir itu kepada si Fulan. Keluarga mereka lebih membutuhkan," suruh Ali.

Jika istrinya mengeluarkan kata-kata tak sedap didengar, Rasulullah langsung memberikan teguran. Aisyah meriwayatkan, "Aku pernah berkata kepada Nabi, 'Shafiyah itu orangnya begini begini' (menurut riwayat lain, ia mengatakan Shafiyah itu pendek). Lalu beliau bersabda, 'Kau telah mengatakan sesuatu yang seandainya melebur dengan air laut maka leburlah ia".

Begitu pula Asiyah berkata, "Aku pernah menceritakan seseorang kepada Rasulullah (maksudnya, aku pernah menyebut seseorang tentang keadaan dan kelakuannya yang tidak disukai Rasullah). Lalu beliau bersabda, 'Aku tak suka mendengar cerita tentang seseorang, dan aku diceritakan begini dan begitu".

Ketika istri-istri Rasulullah sedang mendampingi beliau yang terbaring sakit, tiba-tiba Shafiyah nyeletuk, "Coba kalau kau bersamaku!". Mereka saling pandang, merasa tersinggung dengan kata-kata itu. Mungkin, mereka lalu melontarkan kata-kata yang tidak disukai Nabi. Meski dalam keadaan sakit, Beliau tidak terpantang menyampaikan teguran keras kepada mereka. "Berkumurlah kalian semua," perintahnya. Rasulullah menyuruh mereka mencuci mulut usai mengucapkan kata-kata kotor.
Baca Selengkapnya »

Menanti puluhan tahun, Nabi Zakaria akhirnya diberi putra Nabi Yahya

Wednesday, 29 June 2016

Menanti puluhan tahun, Nabi Zakaria akhirnya diberi putra Nabi Yahya
Ilustrasi. ©AFP PHOTO/Bay Ismoyo
Nabi Zakaria merupakan salah satu 25 nabi pilihan Allah SWT. Sudah lama beliau dan istrinya hidup dalam kesunyian karena belum dikaruniai seorang anak.

Usia mereka sudah mencapai 80 tahun, sangat mustahil apabila mendapatkan seorang anak dalam lanjut usia. Istri Nabi Zakaria sedih melihat suaminya termenung karena belum dikaruniai seorang anak. Nabi Zakaria menginginkan seorang putra penerusnya.

Dikutip Cerita Alquran untuk anak, karangan Tim Erlangga For Kids mengisahkan Nabi Zakaria berdoa kepada Allah SWT untuk memberikannya seorang anak. "Ya Tuhanku, sesungguhnya tubuhku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. Sesungguhnya aku khawatir terhadap penerusku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putra, yang akan mewarisi sebagian keluarga Yaqub, dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridai oleh-Mu." (QS Maryam ayat 4-6).

Akhirnya Allah SWT pun mengabulkan doa Nabi Zakaria. Tak lama setelah Nabi Zakaria berdoa, malaikat menghampiri Nabi Zakaria saat beribadah dan menyampaikan firman Allah SWT. "Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu. Engkau akan memperoleh seorang anak yang bernama Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia". (Qs Maryam ayat 7). Nabi Zakaria AS pun berkata, "Ya Tuhanku, bagaimana aku akan mendapatkan anak padahal istriku mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua" (QS Maryam ayat 8).

Lalu Allah SWT berfirman, "Demikianlah, hal itu adalah mudah bagi-Ku dan sesungguhnya telah Aku ciptakan engkau sebelum itu, padahal engkau di waktu itu belum ada sama sekali". (QS Maryam ayat 9).

Nabi Zakaria segera tersadar bahwa sesungguhnya tidak ada satupun yang sulit bagi Allah SWT. Segala sesuatu yang sepertinya tidak mungkin terjadi di alam semesta ini, dapat terjadi atas izin Allah. Hati Nabi Zakaria dipenuhi rasa syukur kepada Allah. Nabi Zakaria AS berkata, "Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda".

Allah lalu berfirman, "Tanda bagimu adalah bahwa engkau tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal engkau dalam keadaan sehat". (QS Maryam ayat 10).

Beliau merasakan kegembiraan yang sangat dalam karena malaikat telah memberitahukannya tentang kelahiran seorang anak lelaki yang diberi nama Yahya oleh Allah. Dengan kemuliaan yang agung ini, Allah menyampaikan berita gembira kepada Nabi Zakaria, bahwa anaknya akan membenarkan kalimat Allah dan akan menjadi seorang yang mulia serta menjadi seorang Nabi dari orang-orang yang saleh.

Setelah mengandung selama sembilan bulan, istri Nabi Zakaria melahirkan seorang anak laki-laki Sesuai firman Allah, bayi tersebut diberi nama Yahya. Nabi Yahya lahir tiga bulan sebelum kelahiran Isa Al-Masih bin Maryam.

Sejak kecil dia telah diajarkan Taurat oleh Nabi Zakaria dan mulai dakwahnya. Ayah dan anak tersebut menjadi guru bagi kaum Bani Israil dalam berbagai banyak hal. Allah berfirman, "Wahai Yahya! Ambilah (pelajarilah) kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan hikmah kepadanya (Yahya) selagi dia masih kanak-kanak". (QS Maryam ayat 12).

Dikutip dari buku Kisah Teladan Menakjubkan 25 Nabi dan Rasul, karangan Lisdy Rahayu, pada masa kehidupan Nabi Yahya, Palestina dikuasai oleh kekaisaran Romawi yang dipimpin oleh Raja Herodus yang memiliki sifat sangat kejam dan suka berfoya-foya. Nabi Yahya AS selalu mengingatkan kaum Bani Israil bahwa azab Allah begitu pedih. Dakwah-dakwah yang disampaikan Nabi Yahya membuat kedudukannya semakin terhormat di hadapan kaum Bani Israil. Hal ini membuat raja Herodus khawatir, jika rakyatnya akan lebih patuh kepada Nabi Yahya, daripada aturan-aturan yang telah dibuatnya.

Pada suatu hari terdengar kabar bahwa Herodus akan menikahi keponakannya sendiri yang bernama Herodia. Nabi Yahya menemui raja Herodus untuk membatalkan pernikahannya. Karena pada saat itu di dalam kitab Taurat, tidak diperbolehkan menikahi keponakan sendiri. Raja Herodus pun murka karena keinginannya untuk mempersunting Herodia ditentang Nabi Yahya. Berita tersebut menyebar ke seluruh kota, dan sampai ke telinga Herodia yang berambisi untuk menjadi ratu. Herodia merasa terganggu dengan adanya fatwa Nabi Yahya, yang merusak jalannya menuju istana.

Herodia menemui Nabi Yahya dan mebujuk untuk mengubah pendiriannya. Tetapi, Nabi Yahya tetap pada pendiriannya dan membuat Herodia marah dan meminta Herodus untuk menangkap dan memenjarakan Nabi Yahya. Maka dimulailah pencarian Nabi Yahya dan Nabi Zakaria untuk dihukum mati. Setelah beberapa hari pencarian, Nabi Yahya berhasil ditemukan dan langsung dihukum mati. Mengetahui hal tersebut, Nabi Zakaria sangat sedih atas kematian putranya. Pada suatu hari, prajurit suruhan Herodus menemukan Nabi Zakaria.

Nabi Zakaria berlari ke arah hutan setelah melihat para prajurit mengejarnya. Ketika dia berlari, dia terus berdoa dan memohon kepada Allah untuk menolongnya. Tiba-tiba langkahnya terhenti ketika melihat pohon yang sangat besar berada di depannya. Atas izin Allah SWT, pohon itu terbelah dua dan Nabi Zakaria masuk ke dalam pohon itu dan kemudian menutup kembali seperti semula. Para prajurit kebingungan karena telah kehilangan jejak Nabi Zakaria. Namun, setan membisikkan tempat persembunyian Nabi Zakaria kepada salah satu prajurit.

Para prajurit pun memutuskan untuk menebang pohon yang besar. Akhirnya Nabi Zakaria wafat dengan tumbangnya pohon tersebut ke tanah. Nabi Yahya dan Nabi Zakaria wafat dalam keadaan mati syahid.
Baca Selengkapnya »

Syuqran, budak yang beruntung dapat memandikan jenazah Rasulullah

Tuesday, 28 June 2016

Syuqran, budak yang beruntung dapat memandikan jenazah Rasulullah
Rasulullah SAW. ©istimewa
Rasulullah memiliki banyak budak, meski ada beberapa yang tidak selalu bersama beliau setiap waktu. Dari sekian banyak, ada salah satu budak yang mempunyai tempat dan kedudukan istimewa sehingga diperkenankan ikut memandikan jenazah Nabi Muhammad. Dia adalah Syuqran.

Syuqran adalah budak yang beruntung bisa diperkenankan memandikan Rasulullah, di mana banyak orang ingin memandikan namun tak mempunyai kesempatan tersebut.

Dikutip dari buku Bilik-bilik Cinta Muhammad, karya Nizar Abazhah mengungkapkan, tak sedikit sahabat yang dicegah mendatangi prosesi pemandian tersebut. Namun, Syuqran berhasil menjadi bagian dari prosesi tersebut.

Hal ini tentu menjadi kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri bagi Syuqran. Selain memandikan, Syuqran juga ikut turun ke liang lahat Kekasih Allah tersebut saat prosesi penguburan.

Dia bentangkan pada jenazah Beliau beludru yang biasa dipakai untuk sajadah salat sambil berkata, "Demi Allah, takkan ada lagi yang memakai (beludru) ini peninggalanmu Rasulullah".

Maasha Allah beruntungnya Syuqran bisa memandikan Rasulullah.
Baca Selengkapnya »

Kisah Nabi Ilyas dan azab untuk kaum Bani Israil

Friday, 24 June 2016

Kisah Nabi Ilyas dan azab untuk kaum Bani Israil
Fenomena Halo Matahari di Venezuela. ©AFP PHOTO/JUAN BARRETO
Nabi Ilyas adalah putra Yasin bin Finhash dan salah satu keturunan Nabi Harun. Dia diutus oleh Allah SWT untuk menjadi seorang Nabi dan menjadi pembimbing bagi kaum Yordan. Beliau mendapat amanat untuk mengajak kaum Israil kembali kepada ajaran Allah. Ketika itu kaum Bani Israil terkenal akan kebiasaan menyembah berhala yang bernama Baal. Berhala itu berada di tengah-tengah kota, sehingga kota tersebut dijuluki dengan kota Baalbak.

Dikutip dari buku Kisah Hikayat Nabi Ilyas AS Dalam Islam, karya Muhammad Xenoryuki menjelaskan, Nabi Ilyas memulai misinya dengan berdakwah kepada kaum Bani Israil. Beliau selalu mengingatkan dan mengajak kaum Bani Israil untuk kembali kepada ajaran Allah. Ketika Nabi Ilyas melihat kenyataan bahwa kaumnya sedang menyembah berhala Baal, Nabi Ilyas berkata kepada kaumnya, "Mengapa kamu tidak bertakwa? Patutkah kamu menyembah Baal dan kamu tinggalkan sebaik-baik Pencipta, (yaitu) Allah Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu yang terdahulu?". (QS As-Saffat ayat 124-126).

Mendengar ajakan dari Nabi Ilyas, kaum Bani Israil begitu marah dan berkata, "Hai Ilyas, berani sekali engkau meminta kepada kaum kami untuk meninggalkan tuhan-tuhan kami. Sesungguhnya, kami melakukan hal itu karena bapak-bapak kami juga telah melakukan hal tersebut," seru kaum Bani Israil kepada Nabi Ilyas.

Bahkan kaum Bani Israil terang-terangan menghina dan mengejek Nabi Ilyas. Walaupun begitu, Nabi Ilyas tetap sabar dan terus berdakwah kepada kaum Bani Israil.

Sementara itu, kaum Bani Israil bersekongkol untuk menyingkirkan Nabi Ilyas. Mereka mengejar-ngejar dan mengusir Nabi Ilyas. Nabi Ilyas pun terpaksa berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk menghilangkan jejaknya agar terhindar dari kejahatan kaum Bani Israil. Dalam pelariannya tersebut, Nabi Ilyas sampai di sebuah rumah yang dihuni oleh keluarga yang baik hati.

Mereka menerima Nabi Ilyas tanpa pamrih. Saat itu, salah satu anggota keluarga di rumah itu sedang menderita sakit. Orang itu adalah Nabi Ilyasa yang beberapa tahun kemudian diutus menjadi Nabi dan menemani dakwah Nabi Ilyas.

Ketika masih muda, Nabi Ilyasa menderita sakit keras. Akhirnya, Nabi Ilyas berdoa kepada Allah SWT untuk memohon kesembuhan Nabi Ilyasa. Dengan izin Allah, Nabi Ilyasa sembuh dari penyakitnya tersebut. Sikap yang dilakukan Nabi Ilyas, dalam menyembuhkan Nabi Ilyasa membuatnya tertarik untuk mengikuti ajaran Nabi Ilyas. Setelah Nabi Ilyasa melihat Nabi Ilyas dapat menyembuhkan penyakitnya yang cukup parah melalui pertolongan Allah SWT, hal itu menjadi bukti baginya mengikuti ajaran Nabi Ilyas dan beribadah kepada Allah. Sejak sat itu Nabi Ilyas memiliki teman untuk berdakwah.

Sementara itu, tiga tahun telah berlalu sejak Nabi Ilyas diusir oleh kaum Bani Israil. Kaum Bani Israil dilanda kekeringan selama tiga tahun, mereka sangat menderita karena kelaparan dan kematian pun menjadi pemandangan sehari-hari. Mereka mengalami kekurangan air, dan hidup tersiksa. Di samping itu, banyak tanaman dan binatang ternak yang akhirnya mati. Kekeringan terus berlanjut dan tidak ada tanda-tanda kapan akan berakhir. Akhirnya beberapa tokoh masyarakat berkumpul dan membicarakan masalah kekeringan di kota mereka.

Salah seorang dari kaum Bani Israil berkata, "Kita telah diinatkan oleh Ilyas sebelumnya. Akan tetapi, kita tidak memedulikannya, bahkan kita mengusirnya. Sekarang, apa yang diucapkannya telah terjadi kepada kita". "Lalu, apa usulmu untuk terhindar dari azab ini?," jawab salah satu kaum Bani Israil. "Kita harus menemukan Ilyas dan bertobat kepada Allah. Lalu, kita minta Ilyas agar memohon kepada Allah untuk tidak mengazab kita," usul salah satu kaum Bani Israil.

Seketika itu mereka berbondong-bondong dan bertekad mencari Nabi Ilyas, mereka berharap agar Nabi Ilyas dapat membantu mereka keluar dari penderitaan yang telah berlangsung lama tersebut.

Setelah melakukan pencarian yang cukup lama, akhirnya kaum Bani Israil dapat menemukan Nabi Ilyas yang telah ditemani Nabi Ilyasa. Mereka memohon kepada Nabi Ilyas untuk membantu keluar dari penderitaan akibat kemarau yang panjang menimpa mereka selama tiga tahun terakhir. Kaum Bani Israil berjanji kepada Nabi Ilyas akan beriman kepada Allah dan mentaati perintah Nya. Kemudian, mereka pun menghancurkan berhala-berhala mereka secara beramai-ramai. Kaum Bani Israil pun segera beriman kepada Allah.

Melihat penderitaan kaum Bani Israil, akhirnya Nabi Ilyas luluh karena tidak tega melihat penderitaan mereka. Nabi Ilyas kemudian berdoa kepada Allah SWT agar kaum Bani Israil diberikan rahmat-Nya dengan menurunkan hujan. Tak lama kemudian, hujan turun membasahi kota Baalbak. Tanaman mulai tumbuh, dan orang-orang serta binatang mulai dapat menggunakan air sesuai dengan kebutuhan mereka. Kaum Bani Israil pun kembali hidup makmur dan sejahtera.

Namun beberapa tahun kemudian, kaum Bani Israil kembali pada kebiasaan mereka dan mengingkari janjinya dengan kembali menyembah berhala dan menggunakan harta benda mereka untuk berbuat maksiat. Akhirnya Nabi Ilyas kembali berdoa kepada Allah agar kaum Bani Israil mendapatkan azab-Nya. Tak lama kemudian, mereka tertimpa azab dari Allah SWT.
Baca Selengkapnya »

Cerita kaum musyrik pertama kali mendengar ayat Alquran hingga sujud

Thursday, 23 June 2016

Cerita kaum musyrik pertama kali mendengar ayat Alquran hingga sujud
Alquran. shutterstock/Egypix
Sepeninggal 100 orang muslim yang hijrah ke Habasyah, Nabi Muhammad SAW dan pengikutinya terus berdakwah di Makkah. Suatu hari, di bulan Ramadan Rasulullah pergi ke masjid Al Haram. Di sana, sedang berkumpul para pembesar kaum Quraisy.

Tiba-tiba, Rasulullah berdiri di tengah-tengah mereka. Para pembesar Quarisy terperanjat. Mereka tak menduga Muhammad berani melakukan itu. Belum habis keterkejutan mereka, Rasulullah membuka mulutnya melantunkan surat an Najm. Ini kali pertama kaum musyrik mendengarkan ayat Alquran.

Dikutip dari buku buku The Great Story of Muhammad, bacaan surat tersebut benar-benar indah, agung dan menawan tidak mampu diungkapkan dengan kata-kata. Para pembesar Quraisy yang mendengarnya tertegun, diam seribu bahasa. Bibir mereka kelu. Lidah mereka kaku. Kepala mereka tertunduk. Keangkuhan mereka sirna seketika. Dinding telinga mereka yang selama ini tertutup rapat, tiba-tiba seolah-olah terkuak lebar.

Mereka hanyut dalam irama lantunan ayat Alquran. Tanpa mereka sadari, Rasulullah telah sampai pada ayat terakhir. Bunyi ayat itu kian membuat jiwa dan hati mereka membubung tinggi ke angkasa luas tek bertepi. "Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah Dia". (QS an Najm [53]: 62).

Setelah mengucapkan ayat itu, Rasulullah kemudian bersujud. Melihat hal itu mereka pun bersujud, mencium tanah. Tidak ada seorang pun dari mereka yang mampu menahan diri untuk tidak ikut bersujud. Mereka semua bersujud bersama Nabi SAW. (HR Bukhari).

Sesaat setelah sujud, mereka mulai menyadari apa yang baru saja mereka lakukan. Mereka tidak ingin ada orang yang mengetahui kejadian tadi. Namun, peristiwa itu dengan cepat menyebar ke seantero Makkah.

Mereka pun dikecam teman-teman mereka. Untuk menjaga gengsi dan mengalihkan perhatian, orang-orang musyrik memunculkan fitnah keji. Mereka mengatakan bahwa sujud yang dilakukan saat itu adalah sujud kepada berhala. "Itulah al Gharaniq yang mulia, yang syafatnya selalu diminta," ujar mereka.
Baca Selengkapnya »

Begini asal usul Rasulullah diberi nama Muhammad

Begini asal usul Rasulullah diberi nama Muhammad
Rasulullah SAW. ©istimewa
Mungkin sebagian umat Islam belum mengetahui, bagaimana asal usul Rasulullah deiberi nama dari Muhammad. Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dan Baihaqi menjelaskan, bahwa pada saat ibunda Rasulullah, Aminah, mengandung didatangi oleh seseorang yang kemudian berkata, "Apabila anak ini telah lahir, berilah ia nama Muhammad. Karena sesungguhnya namanya di dalam Kitab Taurat dan Injil adalah Ahmad. Semoga dengan nama itu, ia dipuji oleh seluruh penduduk langit dan bumi, sedangkan namanya di dalam Alquran adalah Muhammad". (HR Ibnu Ishaq dan Baihaqi).

Mendengar hal itu, Aminah segera memberi tahu ayahnya Abdul Muthallib. Sang kakek lalu memberinya nama Muhammad saat Abdul Muthallib mengadakan aqiqah dan mengundang para pembesar Quraisy.

"Apa nama yang engkau berikan?" tanya para pembesar Quraisy. "Aku akan memberinya nama Muhammad". Mereka semua terkejut mendengar nama yang diberikan Abdul Muhtallib.

"Mengapa engkau tidak suka menamainya dengan nama nenek moyangmu?". "Aku ingin agar dia dipuji oleh para penduduk bumi dan mendapat pujian di langit," jawab Abdul Muthallib.

Dikutip dari buku The Great Story of Muhammad, Rasulullah SAW juga memiliki nama yang lain yaitu Ahmad. Artinya tidak ada seorang pun yang memuji Tuhannya melebihi pujian yang dilakukan Rasulullah. Jadi, setiap orang yang memuji Tuhannya, maka Rasulullah lebih tinggi lagi pujiannya. Nama inilah yang terdapat di dalam Injil.

Nama Rasulullah selengkapnya ialah Muhammad bun Abdullah bin Abdul Muthallib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Kaab bin Luai bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudridah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Maad bin Adnan.
Baca Selengkapnya »

Bukti kecerdasan Nabi Idris, ahli astronomi hingga masalah medis

Bukti kecerdasan Nabi Idris, ahli astronomi hingga masalah medis
Ilustrasi bulan. ©shutterstock/Claudio Divizia.com
Allah SWT menganugerahi Nabi Idris kepandaian yang luar biasa dengan berbagai bidang ilmu. Dengan kemampuannya, Ia mampu menciptakan berbagai alat yang memudahkan pekerjaan manusia.

Nama Idris sendiri disebutkan dalam buku The Prophet of God Enoch: Nabiallah Idris merupakan nama yang berasal dari Arab dengan kosa kata darasa yang berarti.

Nabi Idris merupakan sosok yang mempelajari banyak ilmu, bahkan disampaikan bahwa dirinyalah sebagai penemu tulisan dan pengguna alat tulisnya seperti pena.

Dikisahkan Ibnu Ishaq, selain sebagai pengguna pertama pena, Nabi Idris juga orang pertama yang menjahit baju dan memakainya. Ia juga manusia yang paham dengan masalah medis.

Kecerdasannya mempelajari banyak ilmu dikenal luas, bahkan dikisahkan kalau dirinya mendapat julukan Harmasu al-Haramisah atau ahlinya perbintangan. Astronomi menjadi disiplin ilmu yang dipahaminya.

Disiplin ilmu lain yang Ia kuasai antara lain ilmu perhitungan, ilmu alam dan sebagainya. Nabi Idris juga mampu menguasai berbagai bahasa ketika itu.

Diriwayatkan di dalam Al Quran, Idris menjadi manusia pilihan Allah hingga akhirnya Ia diangkat ke langit. Dalam tafsir Ibnu Abi Hatim, disebutkan Nabi Idris wafat ketika tengah berada di langit keempat dan ditemani seorang malaikat. Dirinya wafat diusia 82 tahun.
Baca Selengkapnya »