Tiga orang ini yang puasanya ditolak Allah SWT

Saturday, 24 June 2017

Tiga orang ini yang puasanya ditolak Allah SWT
Allah SWT
Suatu waktu sahabat melihat Rasulullah mengucapkan amin hingga tiga kali usai salat Idul Fitri. "Amin.. Amin.. Amin." Tentu saja hal itu membuat heran sahabat. Sebab sebelum Nabi Muhammad SAW tak sedang berdoa. Akhirnya sahabat bertanya.

"Ada apa ya Rasul, kenapa engkau mengucapkan amin hingga tiga kali?"

"Tadi sehabis salat, datang malaikat Jibril kepadaku. Beliau berkata, 'Ya Muhammad, saya mau berdoa kepada Allah SWT, maukah engkau mengamini?' Aku jawab 'Tentu ya Jibril'," jawab Rasul dikutip dalam ceramah KH Zainuddin MZ beberapa tahun lalu.

Kalau sudah Jibril yang berdoa dan Rasulullah yang mengamini, pasti langsung didengar oleh Allah SWT. Doa tersebut berisi tentang tak diterimanya puasa umat muslim yang berikut:

1. Anak yang durhaka kepada orangtua.

"Ya Allah SWT saya memohon kepada kepadaMu, jangan Engkau terima puasanya anak yang durhaka kepada ibu dan bapaknya," doa Jibril. Doa itu langsung diamini oleh Rasulullah.

Tidak semua orang itu orangtua, tapi sudah pasti seorang anak. Setinggi apapun pangkat atau kedudukan anak, bahkan memiliki banyak harta namun kalau sudah menyakiti orangtua, Jibril mendoakan dan diamini oleh Rasul agar puasanya tidak diterima Allah SWT.

2. Istri yang durhaka kepada suami.

"Ya Allah SWT saya memohon kepada kepadaMu, jangan Engkau terima puasanya istri yang durhaka kepada suami," doa Jibril. Doa itu langsung diamini oleh Rasulullah.

Mungkin wanita ada yang bertanya, bagaimana jika suami yang durhaka kepada istri. Poinnya, suami ini pemimpin rumah tangga, dan bakal diminta pertanggungjawaban atas istrinya.

Surah Al-Baqaroh ayat 187 berbunyi, "Suami istri bagaikan pakaian."

Kalau suami istri bagaikan pakaian, sudah pasti untuk menutupi. Suami dan istri harus saling menutupi kekurangan masing-masing.

3. Muslim yang tak mau memaafkan saudaranya sesama muslim.

"Ya Allah SWT saya memohon kepada kepadaMu, jangan Engkau terima puasanya muslim yang tak mau memaafkan saudaranya sesama muslim," doa Jibril. Doa itu kembali diamini oleh Rasulullah.

Memaafkan lebih berat dari minta maaf, tapi memberi maaf lebih mulia daripada meminta maaf. Biasanya saat Idul Fitri halal bi halal, saling maaf memaafkan. Halal bi halal itu bahasa Arab yang di Arab sendiri tak ada tradisi itu. Asal kata dari Halalun bi halalin, artinya halal dengan halal. Maksudnya, kemarin si A menyakiti B dan itu haram, maka sekarang saat halal bi halal, tolong dihalalkan, tolong dimaafkan. Ini untuk memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.

Orang sufi mengajarkan, tak ada dosa kecil kalau ditumpuk terus menerus, tak ada dosa besar jika setiap hari digempur Istigfar.

Rasulullah bersabda, "Silaturahmilah kau kepada orang yang marah denganmu, bahkan dengan orang yang pelit sekalipun."
Baca Selengkapnya »

Ini keistimewaan puasa enam hari di bulan Syawal

Friday, 23 June 2017

Ini keistimewaan puasa enam hari di bulan Syawal
Jokowi buka puasa bersama anak yatim dan difabel di Istana. ©2017 Lintastoday
Setelah puasa satu bulan di bulan Ramadan, disunahkan untuk puasa enam hari di bulan syawal. Dikutip dari buku Amalan Kecil Berpahala Besar, karya Fahrur Muis menjelaskan puasa enam hari pada bulan Syawal adalah amalan ringan yang berpahala besar. Dia dikira kecil dan ringan karena sebelum bulan Syawal itu, umat Islam sudah melaksanakan puasa Ramadan selama sebulan.

"Orang yang berpuasa Ramadan, lalu diikuti dengan puasa enam hari dalam bulan Syawal, sama dengan pahala puasa sepanjang tahun," kata Rasulullah.

Orang yang puasa enam hari pada bulan Syawal setelah Ramadan akan mendapat pahala seperti mereka berpuasa setahun penuh. Hal ini karena pahala kebaikan itu digandakan menjadi 10 kali lipat.

Berpuasa pada bulan Ramadan sama dengan puasa selama 10 bulan, manakala puasa enam hari pada bulan Syawal sama dengan berpuasa selama dua bulan. Oleh karena itu, dia berjumlah 12 bulan. Maka beruntung orang yang berpuasa enam hari pada bulan Syawal. Sebab dia mendapat pahala seolah-olah telah puasa selama setahun.

Bisa diibaratkan seperti pegawai yang diberikan gaji setahun, namun hanya perlu bekerja selama enam hari. Pastinya hal itu akan membuat gembira karena dapat gaji berlipat.Begitu juga keadaannya dengan ibadah puasa enam hari pada bulan syawal yang memberikan keuntungan kepada kaum muslim di akhirat kelak.

Bahkan jika saat puasa syawal dilakukan pada Senin atau Kamis, maka akan mendapat dua kali pahala puasa Syawal dan Senin Kamis. Namun hal itu harus dengan niat puasa keduanya.
Baca Selengkapnya »

Pentingnya saling memaafkan di hari Idul Fitri

Pentingnya saling memaafkan di hari Idul Fitri
Ilustrasi salaman. ©hdimagelib.com
Hari Raya Idul Fitri merupakan momentum penting untuk bersilaturahmi dan saling memaafkan. Seluruh kesalahan yang pernah dilakukan terhadap sesama selama setahun seolah hilang di hari Lebaran.

Allah tidak akan mengampuni kesalahan yang dilakukan jika tidak mau minta maaf. Memaafkan memang pekerjaan gampang-gampang susah. Tidak semua orang berbesar hati memaafkan kesalahan orang lain. Terlebih lagi jika orang itu menganggap kesalahan terlalu besar sehingga kata maaf dianggap terlalu ringan, dan tidak cukup untuk menebus kesalahan itu.

Kata memaafkan sendiri, sebagaimana tersebut dalam surat Ali Imran (3):134 didahului dengan kata menahan amarah. Sebab, orang yang tidak bersedia memaafkan kesalahan orang lain biasanya mendendam amarah dan menyimpan amarah.

"(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik pada waktu lapang maupun sempit, serta orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." (QS Ali Imran [3]: 134).

Dalam Alquran kata 'dendam' terkait masalah manusiawi hanya disebutkan dua kali. "Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka." (QS Al Araf [7]:43).

Sifat dendam yang salah satu tidak mau memaafkan kesalahan orang lain bukanlah sifat orang yang beriman. Dengan begitu datangnya Hari Raya Idul Fitri waktu yang tepat untuk saling memaafkan supaya kembali ke Fitrah bagaikan kertas putih yang belum tercoret.
Baca Selengkapnya »

Bagi-bagi uang lebaran kepada anak-anak, ini hukumnya

Wednesday, 21 June 2017

Bagi-bagi uang lebaran kepada anak-anak, ini hukumnya
Sudirman Said santuni anak yatim di Tambora. ©2017 Lintastoday
Idul Fitri ialah hari yang paling dinanti oleh seluruh umat muslim. Di mana setelah satu bulan puasa dapat merayakan hari kemenangan. Hari raya Idul Fitri atau lebaran waktu berkumpul dengan keluarga besar. Saling maaf memaafkan dan bergembira bersama.

Tradisi makan ketupat dan opor juga yang paling khas. Kendati pada bulan biasa bisa masak menu itu tapi pada lebaran lebih khas. Selain makan ketupat opor ada juga tradisi lain yang tak kalah ditunggu dan menyenangkan, khususnya untuk anak-anak. Itu adalah tradisi bagi-bagi uang lebaran atau disebut THR.

Tradisi ini seolah tidak pernah luput pada suasana lebaran. Namun bagaimana hukum dalam Islam bagi-bagi uang lebaran?

Ustaz Syamsul Arifin Nababan, pendiri pondok pesantren mualaf An Nabba Center mengatakan memberikan uang lebaran kepada anak-anak atau sanak saudara boleh. "Boleh saja namanya kasih hadiah atau sedekah," kata Ustaz Nababan kepada merdeka.com.

Yang perlu dicatat tujuan memberikan uang lebaran bukan untuk riya melainkan tulus sedekah. Dalam Islam hal ini tidak wajib, namun hanya tradisi khususnya di Indonesia. "Itu tidak harus cuma tradisi," ujarnya.
Baca Selengkapnya »

Kisah Abdullah anak Umar bin Khattab periwayat hadis terbanyak

Tuesday, 20 June 2017

Kisah Abdullah anak Umar bin Khattab periwayat hadis terbanyak
Rasulullah SAW
Abdullah bin Umar dilahirkan tiga tahun setelah Nabi Muhammad SAW menjadi Rasul. Abdullah ialah putra Umar bin Khattab. Dia masuk Islam bersama ayahnya saat masih kecil.

Masa muda Abdullah bin Umar dipenuhi semangat Islam. Dia dididik oleh ayahnya dalam kedisiplinan dan ketaatan kepada agama. Pada usia 13 tahun, dia sangat ingin menyertai ayahnya dalam Perang Badar. Akan tetapi Rasulullah tidak mengizinkan lantaran usianya masih terlalu muda. Baru ketika usianya mencapai 15 tahun dia mengikuti Perang Khandaq.

Sejak saat itulah Abdullah bin Umar selalu menyertai Rasulullah dalam menentang musuh Islam. Dikutip dari buku Kisah Seru 60 Sahabat Rasul tulisan Ummu Akbar mengisahkan bahwa, bersama para sahabat Rasulullah yang lain Abdullah bin Umar mengembangkan dakwah Islam ke Mesopotamia, Persia dan Mesir.

Abdullah bin Umar ialah sahabat Rasulullah yang dikenal sebagai periwayat hadis terbanyak kedua setelah Abu Hurairah yakni sebanyak 2.630 hadis. Abdullah bin Umar dapat meriwayatkan banyak hadis karena dia senantiasa menghadiri majelis ilmu dan mengikuti Rasulullah.

Dia selalu mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah dalam keseharian. Oleh karena itu Abdullah bin Umar menjadi orang yang disegani dan dihormati. Bahkan, pujian terhadap Abdullah dan Umar datang dari orang-orang saleh.

"Tidak ada di antara kami yang disenangi dunia dan dunia senang kepadanya, kecuali Umar dan putranya Abdullah," puji Jabir bin Abdillah.
Baca Selengkapnya »

Empat cara bersyukur kepada Allah SWT

Monday, 19 June 2017

Empat cara bersyukur kepada Allah SWT
Allah SWT
Umat muslim wajib bersyukur atas nikmat Allah SWT telah diberikan, dari nikmat harta hingga nikmat bernapas. Sebab bersyukur disebutkan sekitar 70 ayat di dalam Alquran.

Salah satu dari ayat tersebut yakni pada surah Al Baqarah ayat 172. "Hai orang-orang yang beriman! Makanlah di antara rezeki yang baik yang Kami berikan kepadamu. Dan bersyukurlah kepada Allah jika memang hanya Dia yang kamu sembah."

Imam Al Ghazali menerangkan bahwa bersyukur kepada Allah dapat dilakukan dengan empat cara yaitu seperti dikutip dari buku Amalan Pembuka Rezeki tulisan Karya Haris Priyatna, Lisdy Rahayu.

1. Bersyukur dengan hati

Bersyukur dengan hati dilakukan dengan menyadari sepenuhnya bahwa segala nikmat dan rezeki yang didapatkan semata-mata merupakan karunia dan kemurahan Allah.

"Segala nikmat yang ada pada kamu (berasal) dari Allah." (QS An-Nahl [16]:53).

Bersyukur dengan hati bisa membawa seseorang pada sikap menerima karunia Allah, dengan penuh keikhlasan tanpa kecewa atau keberatan betapa pun kecilnya nikmat tersebut.

2. Bersyukur dengan lisan

Bila hati seseorang telah sangat yakin bahwa segala nikmat yang didapatkan berasal dari Allah SWT. Dia pasti akan mengucapkan Alhamdulillah (segala puji bagi Allah). Oleh karena itu, jika mendapatkan nikmat dari seseorang lisannya tetap memuji Allah. Karena mesti disadari bahwa orang itu sekedar perantara Allah.

3. Bersyukur dengan tindakan

Bersyukur dengan tindakan bermakna bahwa semua nikmat yang diperoleh harus dimanfaatkan di jalan yang diridhaiNya.

Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa Allah SWT sangat suka melihat nikmat yang diberikan kepada hambaNya dengan cara dimanfaatkan sebaik-baiknya.

"Sesungguhnya Allah senang melihat atsar (bekas/wujud) nikmatNya pada hambaNya," sabda Rasulullah.

Maksud dari hadis ini ialah Allah sangat suka pada hamba-hambaNya yang memperlihatkan dan mengakui segala nikmat yang dilimpahkan kepadanya. Misalnya, orang kaya hendaklah membagi hartanya untuk zakat sedekah dan sebagainya.

4. Merawat kenikmatan

Apabila mendapatkan nikmat dari Allah SWT usahakan untuk merawatnya agar tidak rusak. Hal ini seperti menjaga amanah dari Allah. Contohnya kita memiliki tubuh yang sehat wajib menjaga agar tubuh tetap sehat dan terhindar dari penyakit. Caranya tentu saja makan makanan yang halal dan baik.
Baca Selengkapnya »

Kisah Imam Muslim cium kaki gurunya, Imam Bukhari

Sunday, 18 June 2017

Kisah Imam Muslim cium kaki gurunya, Imam Bukhari
Ilustrasi Nabi Muhammad SAW
Penghormatan terhadap guru sangat dianjurkan di dalam Islam. Penghormatan ini dapat diekpresikan dengan berbagai macam cara. Di antaranya, mencium tangan guru, membawa tas dan kitab mereka ke dalam kelas, memapah dan membantu mereka berjalan.

Anjuran untuk menghormati guru ini sudah lama diajarkan oleh para ulama terdahulu. Mereka tidak segan berebut untuk mencium tangan guru, ustaz, ataupun kiai yang sudah mengajarkan ilmu kepada mereka.

Bahkan, Imam Muslim, seorang ahli hadis yang paling terkenal di dunia Islam, pada saat bertemu gurunya Imam Al-Bukhari, tidak segan untuk mencium kening dan kakinya.

Ini tentu bukan suatu penyelewangan dan penyimpangan. Andaikan tidak benar dan dilarang di dalam Islam, tentu Imam Muslim sebagai ahli hadits tidak akan melakukannya dan Imam Al-Bukhari pasti sudah melarangnya.

Syekh Nuruddin 'Itr dalam Lamahat Mujazah fi Ushuli 'Ilalil Hadits mengutip sebuah riwayat tentang adab Imam Muslim saat bertemu gurunya.

Riwayat ini berasal dari Ahmad Ibnu Hamdun Al-Qashar bahwa Imam Muslim pernah mendatangi Imam Al-Bukhari untuk bertanya tentang hadis mu'allal. Ketika bertemu, beliau langsung mencium kening gurunya dan berkata.

"Biarkan aku mencium dua kakimu wahai mahaguru, pemuka ahli hadis, dan pakar dalam kajian 'ilal hadits."

Imam Muslim yang sudah sangat tersohor pada masanya tidak enggan untuk menghormati dan bersikap rendah diri di hadapan gurunya. Ia tidak sekadar cium tangan, tetapi juga mencium kaki gurunya.

Dengan demikian, tradisi 'ngalap berkah' bukanlah sesuatu yang baru dan berasal dari pengaruh tradisi lokal sebagaimana dituduhkan sebagian orang. Ini merupakan tradisi yang diwariskan oleh ulama turun temurun. Yang melakukannya tidak hanya ulama di Nusantara, tetapi juga dilakukan oleh ulama Timur-Tengah, meskipun dengan cara yang berbeda-beda.
Baca Selengkapnya »

Bersih dari dosa, Rasulullah SAW tetap Istigfar kepada Allah SWT

Bersih dari dosa, Rasulullah SAW tetap Istigfar kepada Allah SWT
Allah SWT
Manusia makhluk yang tidak lepas dari khilaf dan perbuatan dosa. Karena dalam diri manusia diselimuti oleh hawa nafsu yang sulit terbendung.

Oleh sebab itu hawa nafsu dianggap musuh terbesar bagi manusia. Akan tetapi sebanyak-banyaknya melakukan khilaf dan dosa, manusia tetap memohon ampun atas segala dosa yang diperbuat. Memohon ampun itu dengan beristigfar.

Dikutip dari buku The Power Of Istighfar tulisan Hasan bin Ahmad Hasan Hamam menerangkan, istigfar merupakan salah satu jalan untuk memohon ampunan kepada Allah SWT. Istigfar memiliki kedudukan yang tinggi dalam diri seorang hamba, bahkan Allah memadukannya dengan iman.

"Dan tidak ada sesuatu pun yang menghalangi manusia dari beriman, ketika petunjuk telah datang kepada mereka, dan dari memohon ampun kepada Tuhannya, kecuali (keinginan menanti) datangnya hukum (Allah yang telah berlalu pada) umat-umat yang dahulu atau datangnya azab atas mereka dengan nyata." (QS Al Kahfi [18]:55).

Istigfar diartikan sebagai memohon ampunan dan perlindungan dari perbuatan dosa di masa lampau. Sebagai hamba yang tidak sempurna baiknya memperbanyak mengucapkan istigfar, khususnya setelah salat. Hal itu supaya sedikit demi sedikit Allah dapat menghapus dan mengampuni dosa yang telah dilakukan.

Rasulullah yang surganya sudah dijamin oleh Allah SWT, tetap meminta ampun kepada Sang Khalik. Istigfar tersebut ditujukan untuk dirinya dan orangtuanya.

"Aku memohon izin kepada Tuhanku untuk mengistigfarkan (memintakan ampun kepada Allah) buat ibuku, dan aku memohon izin untuk menziarahi (kuburan)nya, maka Dia memberikan izin kepadaku."
Baca Selengkapnya »

Wanita muslimah melepas hijab, ini hukumnya

Wanita muslimah melepas hijab, ini hukumnya
Ilustrasi hijab. ©2016 Lintastoday
Tak sedikit wanita, selebritis contohnya, yang menggunakan hijab saat Ramadan datang. Namun sayang, hijab tersebut dilepas usah bulan penuh rahmat dan ampunan itu 'pergi'. Padahal menggunakan hijab wajib hukumnya bagi wanita yang sudah akil baligh.

"Setiap wanita muslimah yang sudah aqil baligh wajib menutup aurat (hijab) baik di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan," kata ustaz Syamsul Arifin Nababan pendiri pondok pesantren mualaf An Nabba Center, kepada merdeka.com, Rabu (14/6).

Persoalan tentang hijab pun tercantum di dalam surat Al Ahzab ayat 59 yang berbunyi, "Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Jadi ketika memutuskan untuk menutup aurat hendaknya para wanita tidak lagi melepasnya. Sebab jika wanita muslimah tidak menutup aurat akan berdosa.

"Jadi berdosa wanita muslimah setiap hari apabila tidak berjilbab," ujar ustaz Nababan.
Baca Selengkapnya »

Apakah mendapat pahala anak kecil ikut berpuasa?

Apakah mendapat pahala anak kecil ikut berpuasa?
Keceriaan anak-anak yatim di Masjid Al Hurriyyah. ©2017 Lintastoday
Salah satu rukun puasa adalah akil baligh. Untuk wanita tanda akil baligh ialah dengan datangnya menstruasi atau darah kotor setiap bulan. Sedangkan untuk anak laki-laki ditandai dengan mimpi basah atau mimpi berhubungan badan.

Sehingga orang yang sudah mencapai akil baligh diwajibkan untuk berpuasa. Maka apabila dia tidak melaksanakannya akan berdosa dan mendapat pahala saat menjalankannya. Kendati begitu, bukan berarti para orangtua tidak memperkenalkan apa itu puasa terhadap anak-anak yang belum akil baligh.

Hendaknya sedini mungkin anak sudah diajarkan berpuasa agar mengetahui ajaran agama. Selain itu, supaya bisa merasakan betapa beratnya orang kurang mampu ketika harus menahan lapar dan haus.

Lalu apakah mendapat pahala ketika anak yang belum akil baligh berpuasa?

Ustaz Syamsul Arifin Nababan pendiri pondok pesantren mualaf An Nabba Center menuturkan, anak belum akil baligh berpuasa tetap mendapatkan pahala meski dia belum diwajibkan. "Anak kecil berpuasa mendapatkan pahala," kata ustaz Nababan kepada merdeka.com, Rabu (14/6).

Bahkan pahala bukan cuma buat si anak, menurut ustaz Nababan pahala itu juga diperuntukkan orangtuanya. "Orangtua juga mendapatkan pahala," ucapnya.
Baca Selengkapnya »

Rasulullah: Umrah di bulan Ramadan menyamai haji bersamaku

Rasulullah: Umrah di bulan Ramadan menyamai haji bersamaku
Kakbah. ©REUTERS
Ramadan ialah bulan yang penuh dengan berkah dan rahmat. Sekecil kebaikan dilakukan di bulan suci ini akan diganjar dengan pahala yang berlimpah.

Terlebih lagi ibadah yang dilakukan seperti umrah. Sebab terdapat keistimewaan ketika melakukan umrah di bulan Ramadan. Keistimewaan itu ketika umrah di bulan Ramadan sama dengan melakukan ibadah haji.

"Umrah dalam bulan Ramadan menyamai haji bersamaku," sabda Rasulullah.

Dalam buku Antar Aku Ke Tanah Suci karangan Miftah Faridl dan Budi Handrianto menjelaskan, tempat melakukan ibadah haji dan umrah pun berbeda. Memang keduanya ada kesamaan misalnya dalam hal miqat. Juga karena melakukan yang sama yaitu thawaf dan sa'i maka tempatnya pun sama di Mekkah.

Namun untuk umrah tidak ada syariat wukuf dan mabit sehingga tidak diperlukan pergi ke Arafah, Mina, dan Muzdalifah. Sedangkan dalam ibadah haji ketiga tempat tersebut wajib dikunjungi karena termasuk rukun dan wajib haji.

Jadi dari sedikit pemaparan di atas, dapat diketahui keistimewaan umrah di bulan Ramadan yang pahalanya sama dengan ibadah haji.
Baca Selengkapnya »

Terganggu anak kecil bercanda di masjid? Ini cara menyikapinya

Terganggu anak kecil bercanda di masjid? Ini cara menyikapinya
Keceriaan anak-anak yatim di Masjid Al Hurriyyah. ©2017 Lintastoday
Anak-anak kecil sering bermain di masjid saat salat tarawih. Tak sedikit jamaah yang merasa terganggu tetapi ada juga yang memakluminya. Bermain lebih tepatnya bercanda memang sudah fitrah anak-anak. Karenanya hal ini tidak bisa dihindari. Tetapi kadang candaan mereka juga mengganggu kenyamanan jamaah dewasa pengguna masjid.

Lalu bagaimana kita sebagai pengurus masjid atau orang dewasa menanggapi kehadiran anak-anak itu di masjid. Berikut ini kami kutip keterangan Imam Al-Ghazali perihal kemunkaran di masjid termasuk batasan dan pengecualiannya.

"Anak kecil tidak masalah masuk ke masjid selagi ia tidak bermain. Bermain di masjid tidak haram bagi mereka. Membiarkan mereka bermain di masjid juga tidak diharamkan kecuali jika mereka menjadikan masjid tempat bermain, dan itu sudah menjadi kebiasaan mereka. Kalau sudah demikian (masjid jadi tempat bermain), maka wajib dilarang karena bermain di masjid termasuk aktivitas yang halal jika sedikit, dan tidak halal ketika banyak. Dalilnya adalah hadits riwayat Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah SAW berdiam demi Aisyah RA yang menyaksikan anak-anak Habasyah menari dan bermain perisai dari kulit dan berperang-perangan pada hari Idul Fitri di masjid. Tidak diragukan lagi bahwa anak-anak Habasyah itu seandainya menjadikan masjid tempat bermain, niscaya mereka akan dilarang bermain. Rasulullah SAW tidak memandang anak-anak itu bermain itu sebagai sebuah kemunkaran sehingga beliau SAW ikut menyaksikannya karena saking jarang dan langkanya," (Lihat Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, Mesir, Mushtafa Albabi Al-Halabi wa Auladuh, 1939 M/1358 H, juz 2, halaman 332).

Sayid Muhammad Az-Zabidi yang dengan telaten mensyarahkan kitab Ihya Ulumiddin mengakui bahwa kehadiran orang gila, anak kecil, dan orang mabuk perlu diwaspadai. Mereka tidak bisa menguasai diri sendiri sehingga dikhawatirkan dapat mencemari masjid. Ada baiknya kita melihat sedikit catatan Sayid Muhammad Az-Zabidi berikut ini. Seperti dikutip dari nu online.

"Di antara kemunkaran adalah masuknya orang gila, anak kecil, dan orang mabuk ke dalam masjid. Karena, mereka tidak memiliki daya pilih. Mereka tidak bisa memelihara diri mereka sendiri. Karenanya diusahakan mereka tidak masuk ke dalam masjid. (Anak kecil tidak masalah masuk ke masjid selagi ia tidak bermain). Dan bersamaan dengan (bermainnya) itu aman dari pencemaran,” (Lihat Sayid Muhammad bin Muhammad Al-Husayni Az-Zabidi, Ithafus Sadatil Muttaqin bi Syarhi Ihya’i Ulumiddin, Beirut, Muassasatut Tarikhil Arabi, 1994 M/1414 H, juz 7, halaman 55-56).

Bahkan Sayid Muhammad Az-Zabidi lebih tegas mengatakan bahwa candaan anak kecil di dalam masjid bukan bagian dari kemunkaran seperti Rasulullah SAW menyikapi kehadiran anak-anak Habasyah yang bermain di masjid seperti kami kutip berikut ini.

"(Rasulullah SAW tidak memandang anak-anak itu bermain itu sebagai sebuah kemunkaran sehingga beliau SAW) sendiri (ikut menyaksikannya karena saking jarang dan langkanya) sebagai pendidikan dan peringatan bagi umatnya bahwa di dalam agama terdapat kelonggaran-kelonggaran," (Lihat Sayid Muhammad bin Muhammad Al-Husayni Az-Zabidi, Ithafus Sadatil Muttaqin bi Syarhi Ihya’i Ulumiddin, Beirut, Muassasatut Tarikhil Arabi, 1994 M/1414 H, juz 7, halaman 56).

Kehadiran anak-anak kecil di masjid perlu dimaklumi dan perlu pendampingan orang tua, terutama bagi anak-anak kecil di bawah usia lima tahun agar tidak mencemari masjid dengan kemungkinan najis yang ada padanya.

Berikutnya, pengurus masjid dan para jamaah perlu memaklumi bahwa kehadiran anak-anak kecil terutama anak-anak di atas lima tahun itu patut disyukuri karena mereka sudah mengawali pembiasaan di masjid sedini mungkin.

Menciptakan 'masjid ramah anak' memang membutuhkan kesiapan manajemen, tata ruang, dan kesadaran tinggi seluruh jamaah. Padahal anak-anak kecil juga memiliki hak guna terhadap masjid. Adapun candaan mereka yang mengganggu kenyamanan jamaah dewasa cukup diperingati dengan lemah lembut, tidak perlu bentakan, hardikan, dan cara kasar lainnya karena cara-cara kasar dapat menciptakan trauma dan banyak mudharat lainnya.
Baca Selengkapnya »

Allah SWT murka pada anak yang tak memuliakan orangtuanya

Allah SWT murka pada anak yang tak memuliakan orangtuanya
Warga hadiri acara sembako murah Yayasan Hati Suci. ©2017 Lintastoday
Orangtua adalah segalanya. Mereka lah yang wajib dihormati dan dimuliakan lebih dulu dibanding yang lain. Menghormati dan memuliakan orangtua terutama ibu juga merupakan bakti kepada Allah SWT.

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu. Maka, sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (QS Al-Isra [17]:23).

Dari ayat tersebut dapat diperoleh tiga kewajiban anak terhadap orangtua, dikutip dari buku Mukjizat Doa & Air Mata Ibu tulisan Ahmad Sudirman Abbas.

1. Wajib untuk berlaku baik, bertindak-tanduk baik kepada orangtua, terlebih lagi bila kedua orangtua sudah lanjut usia.

2. Seorang anak dilarang mengucapkan kata-kata yang bernada merendahkan martabat orangtua atau berupa perbuatan yang menyakitkan.

3. Anak dilarang menghardik orangtua. Menghardik berarti memarahi, menghina, membentak atau menegur keras disertai dengan perbuatan.

Dengan menjalankan kewajiban tersebut semoga kita menjadi anak yang soleh dan soleha. Serta selalu mendapat ridha Allah. Amiin.
Baca Selengkapnya »

Orang-orang sabar akan masuk surga tanpa dihisab

Orang-orang sabar akan masuk surga tanpa dihisab
Allah SWT. ©2014 Lintastoday
Setiap muslim berharap menjadi penghuni surga. Apalagi ketika akan masuk surga tanpa proses hisab (perhitungan) terlebih dulu. Dan ada beberapa golongan manusia manusia yang masuk surga tanpa hisab.

Salah satunya adalah orang-orang yang sabar.

Allah SWT menyebut orang-orang sabar dengan berbagai sapaan. Dalam Alquran kata sabar disebut lebih dari tujuh puluh kali. Itu belum termasuk penyebutan tentang derajat, pahala dan keutamaan-keutamaan dari kesabaran.

"Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS An-Nahl:96).

Dikutip dari buku Masuk Surga Tanpa Hisab tulisan Abdul Nashir Balih menjelaskan, di antara akhlak terpuji seorang muslim ialah selalu sabar dan tabah karena Allah SWT. Orang-orang sabar karena Allah akan menempati tempat yang paling tinggi lagi mulia, yakni sebuah istana di surga. Di dalamnya mereka akan bertemu dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya.

"Orang-orang itulah yang mendapat kesudahan yang baik, yaitu surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil mengucapkan) 'salamun'alaikum bima shabartum'. Maka alangkah baiknya tempat keindahan itu." (Qs Ar Ra'd: 21-24).
Baca Selengkapnya »

Ini keistimewaan Jumat dibanding hari lain

Ini keistimewaan Jumat dibanding hari lain
Jokowi salat Jumat di Masjid Putra. ©AFP PHOTO/MOHD RASFAN
Jumat merupakan hari yang istimewa bagi umat muslim. Karena pada hari tersebut terdapat peristiwa-peristiwa besar yang tidak terjadi di hari lainnya. Misalnya saja Nabi Adam diciptakan oleh Allah pada hari Jumat.

Pada hari Jumat juga Nabi Adam dimasukkan dan dikeluarkan dari surga. Bahkan hari kiamat akan terjadi pada hari Jumat. Namun selain peristiwa yang disebutkan tadi, ada pula keistimewaan dari hari Jumat ini, seperti dikutip dari buku Superberkah Shalat Jumat: Menggali dan Meraih Keutamaan dan Keberkahan di Hari Paling Istimewa tulisan Firdaus Wajdi & Lutfi Arif.

1. Waktu mustajab dikabulkannya doa

Jika seorang muslim berdoa di hari Jumat maka dengan kehendak Allah SWT akan dikabulkan. Sama dengan pada bulan Ramadan ini, setiap doa akan diijabah oleh Allah. Oleh karena itu gunakan kesempatan berdoa dengan khusyuk pada hari Jumat di bulan Ramadan. Karena dua waktu ini paling mustajab dikabulkannya doa.

"Sesungguhnya pada hari Jumat terdapat suatu waktu yang pada waktu itu seorang muslim tepat berdoa memohon kebaikan kepada Allah maka Allah akan mengabulkannya. Dan rentang waktu itu cukup singkat," kata Rasulullah.

2. Ganjaran kebaikan dilipatgandakan

Sama seperti bulan Ramadan, seorang muslim yang melakukan kebaikan di hari Jumat akan diberikan pahala berlipat.

"Pada hari Jumat, kebaikan dilipatgandakan," kata Rasulullah.

Misalnya, dalam hal sedekah. Orang yang bersedekah di hari Jumat pahalanya akan digandakan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat dari sebutir kebajikan yang dilakukan.

"Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biki yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha luas, Maha Mengetahui." (QS Al Baqarah:216).

3. Hari raya mingguan

Suatu keistimewan yang diberikan Allah SWT khusus kepada umat muslim ialah hari Jumat yang dijadikan sebagai 'hari raya'. Ketetapan ini langsung diberikan oleh Allah.

"Hari raya yang Allah jadikan (berikan) kepada kaum muslimin. Maka, orang yang melaksanakan salat Jumat hendaknya mandi. Sekiranya ia memiliki minyak wangi maka hendaknya memakainya. Dan bersiwaklah," sabda Rasulullah.

4. Hari khusus umat Islam yang disebutkan dalam Alquran

Allah SWT berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk menunaikan salat pada hari Jumat maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli." (QS Al Jumu'ah [62]:9).
Baca Selengkapnya »