Jokowi-Maruf Amin. ©2018 Lintastoday
Drama politik tersaji dikubu Joko Widodo, secara mengejutkan Jokowi memilih nama KH Ma'ruf Amin sebagai cawapresnya di pilpres 2019. Terpilihnya Ma'ruf Amin menimbulkan banyak perdebatan dipublik, ada yang setuju ada juga yang menolak. Bukan tanpa alasan, Ma'ruf yang sudah sepuh ini diragukan karena usianya. Sangat berbeda jauh dengan Prabowo yang mengandeng Sandiaga Uno, seorang pengusaha muda dan juga karir politiknya yang cermelang.
Seolah tidak mau ambil pusing, Jokowi dengan mantap mendaftarkan diri bersama Ma'ruf Amin ke KPU. Jokowi tentu saja tidak asal memilih Ma'ruf, dia telah mempertimbangkan dari berbagai aspek dan segi presrasi Ma'ruf, baik di dunia politik dan organisasi. Semua yang dia cari, ada didiri Ma'ruf.
Setelah mengandeng Ma'ruf, bagaimana peluang Jokowi mengalahkan Prabowo-Sandi? Apakah Jokowi bisa kembali duduk di kursi RI 1? Berikut analisisnya:
1. Berhasil membangun infrastruktur modal kuat Jokowi
Jokowi mempunyai peluang besar kembali terpilih menjadi menjadi presiden. Terlebih jika dilihat dari elektabilitas, Jokowi masih mengalahkan Prabowo. Menurut pengamat politik dari Universitas Pelita Harapan Emrus Sihombin, elektabilitas bukan menjadi faktor utama. Rakyat Indonesia bisa kembali memilih Jokowi karena kepemimpinan Jokowi fokus membangun infrastruktur dan sangat dirasakan masyarakat dan ini menjadi nilai plus untuk Jokowi dan pasangannya.
Dengan begitu Jokowi bisa 'menjual' keberhasilan membangun infrastruktur saat kampanye untuk menarik simpati dan suara rakyat Indonesia untuk kembali memilihnya.
"Jokowi sudah menunjukkan kinerjanya salama 4 tahun ini saya kira banyak proyek dan infrastruktur yang dia resmikan. Sebagai pemimpin, menjelang pemilu itu tentu akan menarik simpati masyarakat kalau memang Jokowi bisa membuktikan selama 4 tahun ini berhasil. Mereka harus sungguh-sungguh misalnya Jokowi harus menunjukkan kinerja 4 tahun kedepan. Menawarkan program di 2019-2024 yang bisa Indonesia atau rakyat Indonesai menikmati pembangunan itu. Dengan tentu terukur secara kuantitatif," jelasnya saat dihubungi.
2. Dapat meraup suara millenial
Walau Jokowi berpasangan dengan Ma'ruf Amin yang usianya 75 tahun, menurut Emrus tidak akan menggerus suara dari kaum millenial. Karena pembawan dan gaya Jokowi yang mengikuti perkembangan zaman.
Contohnya saja pada saat dirinya mendaftarkan ke KPU dengan gaya kasualnya menggunakan kemeja putih yang ditambah aksen tulisan menambah kesan muda pada dirinya. Dengan begitu, walau menggandeng Ma'ruf Amin kata Emrus Jokowi tidak perlu takut ditinggal kaum muda.
"Secara simbol non verbal saya fikir mampu beliau mengaet itu (milenial), dengan gayanya, bahasa tubuhnya, pakaiannya. Itu bukti beliau mampu mengaet kaum millenial. Itu bisa dikatakan modal awal, tapi harus diwujudkan dengan program. Tapi secara simbolisasi harus kita akui di seluruh Indonesi nama Jokowi sangat populer diterIma oleh masyarakat. Makanya saya katakan pasangan Prabowo-Sandi harus kerja keras, kalau nanti mau memenangkan pilpres yang akan datang," tutur dia.
3. Serangan SARA akan berkurang
Dipilihnya Ma'ruf Amin yang diketahui tokoh Islam dan seorang ketua MUI, tentu saja dapat mendokrak suara Jokowi-Ma'ruf. Terlebih suara umat Islam. Karena tokoh Ma'ruf mewakili umat Islam.
"Dia tokoh pimpinan MUI saya kira bisa itu. Tapi harus juga dibackup oleh ekonomi umat itu dan masyarakat akan menunggu itu. Ekonomi umat yang bagaimana, yang pasti ujung-ujungnya untuk meningkatkan kesejateraan yang terukur secara oprasional," ungkapnya.
Emrus juga meyakini isu sara pada pilpres 2019 akan mereda. Ditambah kubu lawan yakni Prabowo-Sandi juga tidak akan memaikan isu sara untuk menyerang Jokowi. "Saya secara hipotetis mengatakan isu sara pilpres mendatang yang akan datang akan lebih mereda dibandingkan dengan 2014. Karena dengan simbolisasi Ma'ruf Amin sebagai simbol-simbol keislaman dan kemudian teman-teman di Prabowo juga sudah mengatakan tidak lagi mereka berbicara tentang simbol-simbol dari pada Islam tapi mereka ingin mewujudkan kerja konkret," jelas dia.
"Saya berkesimpulan dari dua pasangan ini bahwa isu sara atau politik indentitas akan mereda akan lebih kecil dibandingkan pilpres 2014," kata Emrus.